ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Museum Louvre di Paris, ikon seni dan sejarah dunia, menjadi sorotan global setelah aksi pencurian yang sangat terorganisir terjadi pada Minggu pagi, 19 Oktober 2025.
Dalam waktu kurang dari tujuh menit, delapan perhiasan bersejarah dari koleksi Napoleon dan keluarga kerajaan Prancis raib dari Galeri Apollo.
Sekitar pukul 09.30 waktu setempat, komplotan pencuri masuk melalui jendela lantai atas menggunakan crane dan alat berat.
ADVERTISEMENT
Mereka langsung menuju dua etalase yang menyimpan permata tak ternilai, termasuk tiara berlian dan mutiara milik Ratu Marie-Amélie dan Ratu Hortense, serta diadem dari koleksi Empress Eugénie.
Museum Louvre Dibobol Maling: Safir Ratu Prancis Hilang, Mahkota Zamrud Ditemukan Rusak
Menurut Paris Prosecutor Laure Beccuau, nilai total perhiasan yang dicuri diperkirakan mencapai USD 102 juta. Namun, ia menekankan bahwa “kerugian sejarah jauh lebih besar daripada nilai materialnya.”
Investigasi awal mengungkap bahwa beberapa bagian museum, termasuk sayap Sully dan Richelieu, hanya memiliki cakupan kamera pengawas masing-masing 40% dan 25%.
Meski Galeri Apollo tidak termasuk dalam area tersebut, laporan dari Cour des Comptes menunjukkan bahwa implementasi sistem keamanan Louvre dari 2019 hingga 2024 sangat lambat dan tidak merata.

Dugaan Kejahatan Terorganisir dan Terencana
Pihak berwenang menduga pencurian ini merupakan bagian dari kejahatan terorganisir. Empat tersangka utama telah diidentifikasi, dan kemungkinan ada pelaku lain yang terlibat.
Pencurian di museum Louvre berlangsung sangat cepat, kurang dari tujuh menit. “Aksi ini sangat terencana dan dijalankan dengan kecepatan luar biasa,” ujar pejabat pemerintahan Prancis Laurent Nunez dikutip radio France Inter.
Myles Connor, mantan pencuri seni terkenal asal Amerika, dalam wawancaranya dengan ABC news menyatakan, “Mereka akan diburu dan dicap sebagai penjahat budaya. Dunia seni tidak akan pernah melupakan ini.” ***
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






