Kamis, 26 Februari 2026 16:07

KORANMANDALA.COM – Ribuan warga Palestina mulai kembali ke wilayah utara setelah gencatan senjata terbaru antara Israel dan .

Namun, kepulangan mereka bukan menuju keindahan sebuah kampung halaman, melainkan ke reruntuhan bangunan dan rumah yang telah hancur akibat serangan militer selama dua tahun terakhir.

Menurut laporan dari AJ+ dan data dari Wikipedia, konflik bersenjata antara Hamas dan Israel yang dimulai pada 7 Oktober 2023 telah menjadi perang paling mematikan dalam sejarah konflik Israel–Palestina.

Hingga Oktober 2025, lebih dari 85.000 orang tewas, termasuk 77.000 warga Gaza, 1.000 warga sipil Israel, dan 1.000 personel keamanan Israel.

Forum Umat Islam Bandung Bersatu Kembali Gelar Aksi Bela Palestina, Targetkan 50 Ribu Peserta

Kerusakan Infrastruktur dan Krisis Kemanusiaan

Data dari lembaga internasional menunjukkan bahwa 83% bangunan di Gaza City telah hancur, termasuk 81.000 unit rumah. Secara keseluruhan, lebih dari 90% hunian di seluruh Jalur Gaza mengalami kerusakan atau kehancuran total. Rumah sakit, sekolah, tempat ibadah, dan lahan pertanian juga menjadi sasaran serangan, membuat sebagian besar wilayah Gaza tidak layak huni.

Pertahanan Sipil Gaza melaporkan bahwa sekitar 10.000 orang masih dinyatakan hilang, diduga tertimbun di bawah reruntuhan bangunan yang ambruk. Tim penyelamat terus bekerja di tengah keterbatasan alat dan risiko keamanan tinggi.

Kepulangan Tanpa Kepastian

Warga Gaza yang kembali ke rumah mereka menghadapi tantangan besar. Tidak ada listrik, air bersih, atau bantuan medis yang memadai. Banyak yang membangun kembali rumah mereka dengan tangan kosong, menggunakan puing-puing dan bahan seadanya.

“Tidak ada yang tersisa. Tapi ini tetap rumah kami,” ujar seorang warga Gaza kepada media lokal. Ia menambahkan bahwa mereka tidak bisa menunggu bantuan datang karena kebutuhan mendesak seperti tempat tinggal dan makanan harus segera dipenuhi.

Anak-Anak Tanpa Orang Tua

Salah satu dampak paling menyedihkan dari konflik ini adalah banyaknya anak-anak yang kembali ke Gaza tanpa orang tua. Beberapa kehilangan ayah, ibu, atau keduanya dalam serangan udara. Trauma psikologis yang mereka alami diperkirakan akan berdampak jangka panjang.

“Anak-anak menggambar rumah dan taman di tembok yang tersisa. Mereka mencoba menciptakan dunia yang lebih baik di tengah kehancuran,” ujar seorang guru sukarelawan.

Meski situasi sangat sulit, semangat warga Gaza untuk bangkit kembali tetap menyala. Mereka tidak hanya membangun rumah, tetapi juga membangun kembali harapan dan identitas mereka sebagai bangsa yang bertahan.

Peta Israel – Hamas War (Ecrusized/Wikipedia)

Data Perang Hamas–Israel

– Tanggal dimulai: 7 Oktober 2023
– Status saat ini: Gencatan senjata sejak 10 Oktober 2025
– Korban jiwa di Gaza: 77.369 tewas, termasuk 67.869 terkonfirmasi dan 9.500 hilang
– Korban luka di Gaza: 170.105+
– Korban jiwa di Israel: 2.084 tewas (1.005 warga sipil, 1.079 personel keamanan)
– Jumlah warga Gaza yang mengungsi: Hampir seluruh populasi 2,3 juta orang
– Wilayah Gaza di bawah kontrol militer Israel: Sekitar 53%

Kritik Internasional dan Tuduhan Kejahatan Perang

Organisasi HAM internasional seperti Amnesty International dan Human Rights Watch telah menuduh kedua pihak (Hamas maupun Israel) melakukan kejahatan perang.

Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) telah mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Menteri Pertahanan Yoav Gallant, dan komandan Hamas Mohammed Deif.

DPR Desak Pemerintah Tolak Kehadiran Atlet Israel

KTT Perdamaian Gaza: Titik Balik Gencatan Senjata

Pada Senin, 13 Oktober 2025, dunia menyaksikan momen bersejarah saat Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perdamaian Gaza digelar di Sharm El-Sheikh, Mesir.

Pertemuan ini dihadiri oleh sejumlah pemimpin dunia, termasuk Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi, Presiden Amerika Serikat Donald Trump, dan Presiden Indonesia Prabowo Subianto.

Dalam KTT tersebut, dokumen gencatan senjata resmi ditandatangani oleh perwakilan Israel dan Hamas.

Kesepakatan mencakup:  Penghentian total serangan militer, Pembebasan sandera dari kedua pihak, Penarikan bertahap pasukan Israel dari wilayah Gaza, Komitmen internasional untuk bantuan kemanusiaan dan rekonstruksi

Presiden Prabowo menyatakan bahwa Indonesia akan terus mendukung proses perdamaian dan pemulihan Gaza. “Yang penting gencatan senjata sudah berjalan, dan pasukan Israel akan segera ditarik,” ujarnya sepulang dari Mesir. ***

 

Exit mobile version