Proses hukum berjalan lamban, bahkan kerap berhenti di tengah jalan. Janji politik dari rezim ke rezim belum mampu memberi jawaban tuntas bagi keluarga korban yang puluhan tahun hidup dalam ketidakpastian.
Setiap tahun, aktivis, mahasiswa, dan pegiat HAM kembali turun ke jalan untuk memperingati September Hitam.
Spanduk, poster, hingga aksi teatrikal digelar bukan sekadar ritual tahunan, melainkan bentuk perlawanan terhadap lupa.
Mereka hadir untuk mengingatkan publik bahwa luka bangsa ini belum sembuh, dan keadilan bagi para korban masih harus terus diperjuangkan.
Di tengah semarak pembangunan dan geliat demokrasi, September Hitam menjadi penanda bahwa ada bagian dari sejarah bangsa yang belum selesai ditulis dengan tinta keadilan. Ia adalah cermin luka bangsa yang tak kunjung terobati.
Dan selama negara belum menunjukkan kesungguhan dalam menuntaskan kasus-kasus itu, setiap September akan selalu terasa hitam penuh duka, penuh tanya, dan penuh tuntutan. (Bagus/MG)
