ADVERTISEMENT
Tragedi Udara di India: 125.000 Liter Bahan Bakar, Ledakan Hebat, dan Bayangan Duka
Pesawat Air India 171 yang jatuh dan terbakar hebat, membawa 125.000 liter bahan bakar yang seketika memicu kobaran api dahsyat.
Menteri Dalam Negeri India, Amit Shah, menggambarkan suhu di lokasi kecelakaan, “Suhunya sangat tinggi sehingga tidak ada peluang untuk menyelamatkan orang,”. Harapan padam sebelum upaya penyelamatan bisa dimulai.
ADVERTISEMENT
Asap pekat membumbung dari puing-puing pesawat yang hangus terbakar, sementara petugas pemadam kebakaran terus mengguyur bangkai pesawat yang menyatu dengan bangunan.
Pelatih Keturunan Maluku Siap Gantikan Arne Slot di Liverpool: Identitas Indonesia Tetap Terjaga
Pemandangan memilukan: ekor pesawat mencuat dari sisi gedung yang runtuh, sayap pesawat terserak di jalan, menjadi saksi bisu dahsyatnya insiden ini.
Ratusan aparat dan tim penyelamat masih bekerja tanpa henti berjam-jam setelah kejadian, mengerahkan alat berat untuk membongkar bagian pesawat yang tertanam di reruntuhan.
Medis dan relawan menghadapi tantangan berat, asap tebal dan puing berserakan menyulitkan pencarian jenazah para korban.
Pesawat nahas itu mengangkut total 230 penumpang: 169 warga India, 53 warga Inggris, tujuh warga Portugal, dan satu warga Kanada.
Perdana Menteri Narendra Modi menyampaikan belasungkawa mendalam, menyebut kejadian itu sebagai “tragedi yang memilukan hati bangsa.”
Dari London, pemerintah Inggris mengaktifkan hotline darurat bagi warganya dan menyatakan tengah bekerja sama dengan otoritas India untuk mengungkap fakta secepat mungkin. PM Keir Starmer menyebut insiden tersebut “benar-benar menghancurkan.”
Tak tinggal diam, Amerika Serikat dan Inggris berkomitmen mengirimkan tim penyelidik ke India. “Apa pun yang dapat kami lakukan, kami akan segera ke sana,” tegas Presiden Donald Trump dari Gedung Putih.
Pesawat buatan 2013 itu belum terketahui secara pasti riwayat penerbangan sebelumnya. Namun satu hal pasti: kecelakaan ini menambah daftar luka bagi Boeing, yang sedang berjuang memperbaiki reputasinya usai serangkaian insiden fatal yang membayangi armada 737 mereka.
Kelly Ortberg, sang nakhoda baru di pucuk pimpinan, mengibarkan bendera ‘tahun pemulihan’. Namun arus tantangan kembali datang menghantam.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






