Jika ke daerah mereka minta pelayanan ranjang bergoyang.
Semua itu diungkap oleh Feri Amsari, fakar hukum Tata Negara Universitas Andalas, dalam vodcast Abraham Samad Speak up.
Very I am sorry (Fery Amsari, maaf) meminta APH (Aparat Penegak Hukum), menelusuri kemungkinan terjadi korupsi atau manipulasi keuangan negara. Tujuh puluh trilyun telah mereka habiskan untuk penyelenggaran pileg dan pilpres.
ADVERTISEMENT
Misalnya telusuri, dari mana uang untuk membiayai tiket CAT bolak balik (beberapa kali) Denhag-Jakarta. Katanya habis 100 juta. Terus bayar apartemen 48 juta, beli alat monitor Rp.5 juta dan banyak pemberian HA kepada CAT. Itu semua terungkap dalam fakta persidangan DKPP.
Jika Mahfud melihat dari aspek moralitas, Feri melihat juga dari aspek ketidak mampuan (kapabilitas) dan profesionalisme.
Sirekap amburadul.
Waktu sidang MK, KPU tidak menyiapkan bahan apa apa. Mereka menyerahkan semua kepada penasihat hukum. Itu kan tidak profesional.
Yang memalukan adalah ketika hakim menegur ketua KPU (HA) yang ketiduran di ruang sidang.
Feri menyindir, mungkin saja dia ngantuk lantaran bergadang semalaman.
Gagasan Mahfud bukan tak bersambut.
KORAN MANDALA – Aksi unjuk rasa memperingati dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil…
KORAN MANDALA – Dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka…
KORAN MANDALA – Aksi premanisme dan pemerasan yang sempat meresahkan pengguna jalan serta viral di…
KORAN MANDALA – Ratusan massa dari berbagai elemen mahasiswa, komunitas, dan warga menggelar aksi evaluasi…
KORAN MANDALA – Mahasiswa Universitas Pasundan (Unpas) memberikan rapor merah terhadap dua tahun kepemimpinan Presiden…
KORAN MANDALA –Kabar duka datang dari Qatar. Rasem binti Salim, pekerja migran asal Kampung Cibendasari,…