Oleh: Widi Garibaldi
Tugas Wartawan dan Hakim itu, sebenarnya sama saja. Keduanya, sama sama mencari kebenaran. Seorang Hakim bertugas membuktikan sejauh mana kebenaran tuntutan pak Jaksa. Kalau memang benar, dia katakan benar.
Tetapi kalau tuntutan pak Jaksa salah, pak Hakim harus berani mengatakan dan menunjukkan hal ihwal kesalahan itu. Pokoknya, pak Hakim harus berani menunjukkan yang salah dan membenarkan yang benar. Itulah namanya Hakim sejati.
Walau harus melompati pagar undang-undang, ia akan lebih mengutamakan jeritan hati nuraninya mengenai kebenaran dan keadilan seperti yang pernah dilakukan oleh Hakim Bismar Siregar (alm).
Banyak rintangan yang dihadapi seorang Hakim, begitu juga dengan wartawan ketika berusaha mencari dan menemukan kebenaran itu. Setan setiap detik menggodanya.
Siapapun yang menjadi Terdakwa, tentu tak rela masuk penjara.Siapapun yang punya perkara karena mendampingi sang Terdakwa, pasti mengharapkan agar kliennya tak dijatuhi hukuman.
Agar pak Hakim lupa akan tugasnya yang mulia yakni mencari dan menemukan kebenaran, imannya digoda dengan aneka ragam janji dan hadiah agar mengiyakan kehendak si Terdakwa.Itulah yang dialami oleh Ketua dan Wakil Ketua Pengadilan Negeri Depok.
Keduanya tak berdaya menghadapi bujuk rayu setan-setan penggoda. Apalagi kaitannya hanya mengenai persoalan eksekusi perkara tanah. Akibatnya masuk perangkap OTT KPK.
Sungguh ironis, Pemerintah baru saja menaikkan gaji para Hakim hingga 280 %. Semula, banyak yang menduga bahwa perbuatan durjana itu, korupsi termasuk suap, bakal terjadi manakala gaji tak seberapa.
Ternyata lacur. Gaji yang kecil bukanlah penyebab utama terjadinya perbuatan yang meruntuhkan harkat dan martabat serta merugikan negara.
Pendidikan sejak dini
Korupsi yang dilakukan oleh Ketua Pengadilan Negeri Depok serta Wakilnya itu sungguh memprihatinkan Pemerintah yang telah menaikkan gaji mereka. Begitu juga dengan dunia peradilan karena beberapa hakim PN Jakarta Selatan baru saja mengalami hal yang sama.
Dihukum karena terbukti korupsi. Ternyata kenaikan gaji tak punya pengaruh signifikan. Begitu juga dengan gelar-gelar yang tak mungkin dapat disandang orang sembarangan.
Yang Mulia dan Wakil Tuhan di Dunia ! Dibutuhkan Hakim seperti Artidjo Alkautsar yang selama hidupnya memegang teguh-teguh perinsip “no tolerance” terhadap korupsi.
Lalu apa yang harus dilakukan ? Menemukan orang-orang hebat yang mampu menyandang gelar-gelar luar biasa itu, tentu saja tidak mudah.
Dibutuhkan pengawasan dan pembinaan mendasar dan menyeluruh. Pendidikan sejak dini tentu saja merupakan persyaratan mutlak agar tercipta manusia yang sadar akan “hak” dan “kewajiban”nya.
Kendati sama-sama bertugas mencari dan menemukan kebenaran, apa yang terjadi di dunia peradilan itu tentu menjadi momok bagi wartawan yang pada tanggal 9 Februari ini memperingati Hari Pers Nasional.
Dalam situasi sesulit apapun, mereka diharapkan wajib menghindar dari godaan-godaan berupa bujuk rayu, mempublikasikan berita-berita “sampah” dengan imbalan uang.
Malangnya, bujuk rayu itu sering dilakukan oleh para Pejabat yang seharusnya membimbing mereka***
