ADVERTISEMENT
Oleh
Harun Al-Rasyid Lubis / Dosen ITB
Pagi hari di persimpangan Dago,
Bandung menghela napas panjang
Hangat kupat tahu bersama deru kendaraan
Payung-payung tenda tegak berakar di trotoar
seperti ilalang yang tak mau tunduk.
Di sini kota tumbuh dari janji dan jeda—
dari garis kuning yang pudar,
dari spanduk menua di bawah hujan.
ADVERTISEMENT
Kususuri tepian Dago Simpang
Ada banyak tawar-menawar di mulut pasar
Seorang ibu menata gorengan hangat di telapak tangan.
Di sebelahnya
arus kendaraan menggertak para penyeberang jalan
bergeraklah cepat, atau kami yang menggerakkanmu.
Petugas datang dengan peluit letih,
mengurai simpul yang sudah menjadi anyaman nasib—
setiap lapak satu cerita,
setiap macet ada hiburan alunan nada
Bandung, kau gemar menunda:
wacana disimpan di lembar rapat,
sementara senja menggelinding
dan hujan menurunkan tirai kompromi.
Di bawah jembatan layang, ku lihat peta berembun.
garis relokasi hilang seperti kapur
disapu jejak anak jalanan yang menepi ke trotoar
tak jauh dari polisi cepek yg turut mengatur simpang
Di Jogja, pernah kulihat pagi merapikan diri:
gerobak menepi sebelum matahari tegak,
sepeda menyusup lembut seperti doa yang tak bersuara.
Jalan-jalan memeluk pelan,
pamong dan pedagang bertukar sapa—bukan curiga.
Di Semarang, angin laut mengajar sabar.
lampu hijau memanjang, simpang lima bernapas teratur,
pasar menemukan rumah di gang-gang yang ditata
dengan bahasa kesepakatan, bukan bara.
Namun kembali ke Bandung,
gunung-gunung menggema “nanti”
yang memantul di dinding ruko.
Anak-anak belajar berhitung
dari jarak bumper ke bumper,
kalender kota dirobek rapat darurat:
hari ini penertiban, besok bazar, lusa pilkada.
Ganti pimpinan cuma beda gaya,
hasil sama saja , gitu-gitu aja.
Di sini, aturan turun seperti hujan,
namun payungnya dijual lebih dulu.
Di Dago atas—juga lebih atas lagi—
lahan sudah diijon, jauh sebelum musim tiba.
Tak lama hotel-hotel pun berdiri di sekitarnya
Seseorang berbisik: “Mengapa sulit merapikan Bandung?”
Karena Bandung mencintai keramaian, bersolek terus,
Bila ada pelanggaran enggan menegur,
menghindari berlaku kasar, menjaga santun
Manggaaaa …..
Lapak rezeki akhirnya digelar di tepi jalan
Lebih cepat daripada gelar rapat di balai kota
Karena sulit tegak menjaga kompas kota—
duit juga terbatas adanya
Akhirnya krisis tertanam di pinggir jalan,
Yang merebak ikuti riuh pasar.
Malam pagi datang silih berganti
sinar lampu membayang di genangan
Para PKL menutup warung dengan tali rafia,
macet melonggarkan kerahnya.
Kutulis nama kota di telapak tangan:
Bandung yang hangat, Bandung yang berat,
ingin tertib tanpa kehilangan rasa
Di kejauhan, Jogja melantun tembang malam;
Semarang meniup peluit pagi pelabuhan.
Esok, semoga yang datang bukan peluit marah,
melainkan peta yang mengerti manusia
trotoar untuk melangkah,
Tata lapak menyatu demi nafkah,
Cegah ruang hijau jadi hunian rapat
Agar jalan untuk pulang tak tersendat
Untuk Bandung mari pelan-pelan,
belajar dari saudara dekat Jogya, Semarang
Tertib tak harus dingin,
rapi tak mesti sunyi,
kita bisa memilih saling memberi jalan
tanpa saling menghapuskan.
Kemana pergi para ahli Perencana Kota?
Ke mana pergi kearifan Tatar Sunda:
Cageur, Bageur, Bener, Singer, Pinter?
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






