ADVERTISEMENT
Dampak yang Tidak Selalu Terlihat, Namun Nyata
Salah satu pelajaran terpenting dari liputan Koran Mandala sepanjang 2025 adalah bahwa dampak pendidikan holistik tidak selalu hadir dalam bentuk angka. Dampaknya muncul dalam perubahan cara pandang dan relasi manusia.

Orang tua yang mulai memperlambat langkah dan mendengarkan anaknya. Guru yang kembali memaknai profesinya sebagai panggilan etis. Komunitas yang membangun relasi berbasis kepercayaan, bukan kompetisi. Semua ini jarang masuk statistik nasional, tetapi nyata dalam kehidupan sehari-hari.
ADVERTISEMENT
Sebagai media, Koran Mandala memilih untuk memberi ruang bagi dampak-dampak semacam ini. Bukan karena ia lebih mulia, tetapi karena tanpa dampak kemanusiaan, kemajuan kehilangan arah.
Sikap Koran Mandala: Menjaga Percakapan Tetap Bernapas
Sebagai bagian refleksi akhir tahun, Koran Mandala menegaskan sikapnya: pendidikan yang mengabaikan manusia pada akhirnya akan merugikan masyarakat itu sendiri. Waldorf dan antroposofi bukan satu-satunya jalan, tetapi keduanya menghadirkan perspektif penting yang layak didengar dan dipertimbangkan secara jujur.
Peran media bukan menentukan pilihan pendidikan publik, melainkan menjaga agar percakapan tidak dangkal, tidak tergesa-gesa, dan tidak tereduksi menjadi slogan. Dalam lanskap media digital yang serba cepat, pilihan ini mungkin tidak populer. Namun Koran Mandala meyakini bahwa jurnalisme yang berpihak pada manusia memang menuntut keberanian untuk berjalan lebih pelan.
Menutup Tahun, Membuka Kesadaran
Menjelang akhir 2025, Koran Mandala tidak menawarkan kesimpulan final. Yang kami tawarkan adalah kesadaran bersama: bahwa masa depan pendidikan Indonesia tidak bisa dilepaskan dari pertanyaan tentang manusia, nilai, dan dampak sosialnya.
Pendidikan Waldorf dan pemikiran antroposofi sepanjang 2025 telah membuka ruang refleksi itu. Bukan sebagai jawaban mutlak, melainkan sebagai cermin—untuk melihat kembali arah yang sedang kita tempuh.
Koran Mandala memilih untuk terus mencatat, merefleksikan, dan menjaga agar manusia tidak hilang dari percakapan publik. Karena kami percaya, di sanalah masa depan yang layak diperjuangkan bermula.
Penulis adalah Pimpinan Perusahaan Koran Mandala & Pengurus Asosiasi Waldorf Steiner Indonesia.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






