ADVERTISEMENT
Oleh: Iwan Kurniawan
Di tengah percepatan teknologi dan tuntutan efisiensi, semakin banyak orang tua dan pendidik di Indonesia mulai bertanya: apakah pendidikan masih memberi ruang bagi manusia untuk tumbuh sebagai manusia?
Koran Mandala memandang tahun 2025 sebagai titik refleksi penting bagi arah pendidikan dan kebudayaan di Indonesia. Bukan karena banyaknya agenda atau perhelatan, melainkan karena semakin kuatnya kesadaran kolektif bahwa pendidikan tidak bisa lagi diperlakukan semata sebagai sistem produksi manusia siap pakai.
ADVERTISEMENT
Sepanjang 2025, melalui berbagai liputan, laporan kegiatan, dan refleksi edukasi, Koran Mandala mencermati bagaimana pendidikan Waldorf dan pemikiran antroposofi perlahan menemukan ruang yang lebih terbuka dalam percakapan publik. Bukan sebagai jawaban tunggal, tetapi sebagai pengingat keras bahwa di tengah percepatan zaman, manusia berisiko tertinggal oleh sistem yang diciptakannya sendiri.
Pendidikan yang Kembali Bertanya tentang Manusia
Dalam liputan Koran Mandala sepanjang tahun ini—baik dari praktik pendidikan anak usia dini berbasis Waldorf maupun diskusi publik yang lebih luas—satu tema muncul berulang: kegelisahan terhadap pendidikan yang kehilangan manusia sebagai pusatnya.
Pendidikan modern semakin terjebak pada ukuran-ukuran cepat: capaian akademik, standar global, dan efisiensi sistem. Anak-anak didorong untuk “siap” lebih dini, sering kali tanpa ruang yang cukup untuk mengalami dunia secara utuh. Dalam konteks inilah pendekatan Waldorf menjadi relevan, bukan karena ia “alternatif”, tetapi karena ia menolak tergesa-gesa dalam membentuk manusia.
Dalam laporan Koran Mandala tentang praktik Waldorf Early Childhood Education sepanjang 2025, pendidikan ditampilkan sebagai proses yang menghormati ritme perkembangan anak. Seni, cerita, gerak, dan relasi manusia bukan pelengkap kurikulum, melainkan fondasi pembentukan kepribadian. Pendidikan dimulai dari pengalaman hidup, bukan dari target abstrak.
Koran Mandala memandang pendekatan ini sebagai kritik kultural yang sah terhadap pendidikan yang terlalu mekanistik. Bukan untuk menolak kemajuan, tetapi untuk mengingatkan bahwa tidak semua yang penting bisa diukur, dan tidak semua yang terukur itu penting.
Antroposofi dan Nilai yang Kembali Dicari
Pembahasan Waldorf sepanjang 2025 tidak dapat dilepaskan dari antroposofi sebagai landasan filosofisnya. Dalam liputan Koran Mandala mengenai Indonesia International Conference on Anthroposophy (IICA) 2025 di Bandung, antroposofi tampil bukan sebagai doktrin tertutup, melainkan sebagai kerangka berpikir lintas disiplin.

Antroposofi memandang manusia sebagai makhluk jasmani, jiwa, dan batin yang hidup dalam relasi dengan alam dan masyarakat. Pendidikan, kesehatan, pertanian, seni, dan ekonomi tidak berdiri sendiri, tetapi saling memengaruhi. Di tengah krisis ekologis, krisis makna, dan krisis relasi sosial, nilai-nilai ini menemukan relevansinya kembali.
Koran Mandala secara editorial memandang penting menghadirkan wacana ini ke ruang publik Indonesia. Bukan untuk mengajak semua orang sepakat, tetapi untuk menghidupkan kembali percakapan tentang nilai—sesuatu yang kerap terpinggirkan oleh narasi pertumbuhan ekonomi dan efisiensi semata.
Dalam konteks pendidikan, nilai ini menjelma menjadi pertanyaan mendasar: apakah pendidikan sedang membantu anak menjadi manusia yang utuh, atau sekadar individu yang patuh pada sistem?
2025 sebagai Tahun Konsolidasi, Bukan Euforia
Jika harus dirumuskan secara jujur, 2025 bukanlah tahun ledakan Waldorf dan antroposofi di Indonesia. Ia adalah tahun konsolidasi. Berbagai seminar, pelatihan, dan konferensi yang diliput Koran Mandala menunjukkan upaya serius untuk memperdalam praktik, membangun jejaring, dan membuka dialog yang lebih luas.
Koran Mandala mencatat adanya pergeseran penting: dari sekadar memperkenalkan konsep, menuju upaya membumikan nilai dalam konteks sosial Indonesia. Ini adalah proses yang pelan, tidak spektakuler, dan sering kali sunyi. Namun justru di situlah letak kedewasaannya.
Tantangan tetap besar. Bagaimana menjaga kedalaman nilai tanpa menjadi eksklusif? Bagaimana berdialog dengan sistem pendidikan nasional tanpa kehilangan ruh? Pertanyaan-pertanyaan ini belum selesai, dan mungkin memang tidak bisa diselesaikan secara instan.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






