ADVERTISEMENT
Oleh: Widi Garibaldi
Seorang warga negara jiran, Malaysia, yang baru menjejakkan kakinya di Bandara, tak dapat menyembunyikan sikapnya yang terkesima menyaksikan simpang siur kendaraan bermotor di Jakarta. Ia terkagum kagum menyaksikan aneka ragam kendaraan bermotor yang bersiliweran di hadapannya.
Bermacam merk dan type mobil susul menyusul mencari ruang kosong di jalan raya, Pemandangan demikian, tak pernah dapat disaksikannya di negaranya sendiri. Di ibu kota negaranya, Kuala Lumpur (KL), hanya ada 1 merk mobil yang mendominasi jalan raya.
Sulit mencari merk lain. Hanya mobil bermerk “Proton Saga” yang kelihatan di mana-mana. Hasil kolaborasi antar pemerintah Malaysia dengan peodusen mobil Jepang, Mitsubishi.
ADVERTISEMENT
Proton Saga menjadi mobil Nasional Malaysia. Siapapun dengan bangga mengendarainya. Mulai dari pejabat, pengusaha hingga warga negara biasa. Itulah sebabnya mengapa pendatang dari Malaysia itu begitu terkesima melihat Jakarta.
Di negaranya, hanya orang-orang tertentu saja yang mampu mengendarai kendaraan selain Proton Saga. Tidaklah salah kalau ia berkesimpulan bahwa Indonesia memang negara “super kaya”.
Semua merk mobil ada di sini. Mulai dari mobil Eropa, Jepang, Korsel hingga Cina. Cuma satu yang tak mungkin ditemukan. Mobil merek sendiri. Merek Indonesia. Katakanlah merek Merdeka atau Garuda !
Mulai Timor hingga Esemka
Angan – angan untuk memiliki mobil nasional memang sudah lama berkumandang. Maklum, RI sudah lebih 80 tahun merdeka. Pada zaman Soeharto yang menjadi Presiden ke-2 RI sejak 1967 hingga 1998 yang dikenal sebagai era Orde Baru, rakyat dengan penuh semangat menyambut kehadiran sedan “Timor”,yang disebut sebagai mobil nasional.
Ternyata, mobil itu diimpor langsung oleh Tommy Soeharto anak Presiden RI yang berkuasa lebih dari 30 tahun itu. Maklum anak Presiden yang power full, Tommy Soeharto memasukkan sedan Timor dari Korea Selatan tanpa bea masuk.
Tentu saja harga sedan yang semula bermerk KIA kemudian disunglap menjadi Timor itu menjadi amat murah, sehingga mengundang protes WTO yang menganggap impor bebas bea itu melanggar perdagangan internasional.
Pabrik Timor yang digadang-gadang sebagai mobil nasional, selanjutnya dibangun di daerah Karawang tapi akhirnya menjadi puing-puing karena pembangunan pabrik mobil nasional itu hanya bertumpu pada kekuasaan sesaat.
Pengalaman pahit kedua dialami oleh masyarakat ketika Presiden ke-7 Jokowi mempermaklumkan bahwa Esemka sebagai mobil nasional yang siap merajai jalan raya karena 6.000 pesanan siap diproduksi. Ternyata rencana Mobnas itu hanya “bualan politik” Jokowi semata.
Mobil itu sebenarnya dikembangkan oleh PT Solo Manufaktur Kreasi (SMK) yang menggandeng pabrikan dari Cina, tapi berakhir tak menentu juntrungannya.
Angan-angan akan memiliki mobil nasional (Mobnas) baru-baru ini muncul lagi ketika Presiden Prabowo menjanjikan bahwa kita akan memiliki mobil idaman itu, 3 tahun lagi.
Presiden menunjuk jeep “Maung” buatan PINDAD yang selama ini telah dijadikannya sebagai mobil kepresidenan. Tahap pertama, kendaraan taktis itu akan ditetapkannya sebagai mobil dinas para pejabat negara, dimulai dari para Menteri.
Sampai di sini, janji Presiden itu tidaklah mengada-ada. Soalnya, memproduksi ratusan mobil dalam jangka waktu 3 tahun cukup realistis. Bukankah, jeep produk PINDAD itu masih menggunakan mesin negara asing ? Tegasnya. “jeroan” sang Maung masih harus diimpor. Itulah tantangan yang kita hadapi.
Mampu memproduksi Maung yang “luar dalam”, made in Indonesia. Maung sebagai mobil nasional harus mampu “mengaum” di tengah-tengah merek asing yang menguasai setiap jengkal jalan raya yang kita lalui***
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






