ADVERTISEMENT
0leh: Widi Garibaldi
Dalam hitungan hari, genap sudah setahun penuh Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran dilantik sebagai kepala negara dan pemerintahan ke 8 dari negara yang terdiri dari 1340 suku bangsa dan berbahasa 1001 macam ini.
Memimpin negara yang berpenduduk lebih dari 287 juta jiwa dan mendiami 17.024 pulau dengan luas 1.905 juta km, seperti RI bukanlah pekerjaan aji mumpung.
ADVERTISEMENT
Dibutuhkan pemimpin yang siap mengorbankan jiwa raganya untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk demi tercapainya suatu bangsa yang adil dan makmur.
Dengan pemerintahan yang terdiri dari 49 menteri dan 59 wakil, Prabowo Subianto dan Gibran yang anak sulung Presiden ke-7 itu, sudah lebih dari 360 hari dipilih oleh rakyat untuk memimpin negeri yang terkenal kaya raya ini.
Sudah menjadi kebiasaan bahwa gelagat keberhasilan pemerintahan itu dapat dilihat ketika mereka menyudahi 100 hari pekerjaannya.
Ambeg parama arta
Dengan kabinet yang gemuk itu adalah beralasan kalau kemudian rakyat pemberi mandat mempertanyakan apakah pemerintahan Prabowo itu telah berhasil melaksanakan tugasnya ? Paling tidak, menunjukkan tanda-tanda bahwa keberhasilan itu akan menjadi kenyataan pada waktunya ?.
Tidaklah fair, manakala sekarang ada yang menarik kesimpulan “jauh panggang dari api”. Bukankah kita baru menginjak tahun pertama ?
Kendati demikian, harus diakui bahwa beban berat kini menghadang pemerintahan Prabowo. Di Tengah perekonomian yang terpuruk, ia dihadapkan 1001 macam masalah yang harus diselesaikan segera.Karena itu tindakan yang “ambeg parama arta” yakni bersikap adil dalam menentukan prioritas harus dilakukan.
Sayang, frasa itu tak kelihatan diwujudkan dalam kenyataan. Contoh, kita kini sibuk memikirkan biaya akuisisi kapal induk Giuseppe Garibaldi yang akan dipensiunkan oleh Italia. Untuk membeli kapal induk tua itu dibutuhkan biaya US $ 450 miliar, setara Rp 7,47 triliun.
Dari mana uangnya ? Mudah, tinggal menambah utang luar negeri yang sudah menumpuk lebih dari 9.000 triliun rupiah.
Tidak mengherankan kalau Menteri Purbaya Yudhi Sadewa yang berpikiran realistis itu mengelak untuk membayar utang proyek Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) Whoosh yang mencapai Rp116 T. dari APBN.
Memang, Whoosh itu banyak manfaatnya, mempersingkat waktu pergerakan penduduk. Bayangkan, dari Jakarta ke Bandung dapat ditempuh sekitar 30 menit. Yang menjadi pertanyaan, apakah sudah waktunya alat transport yang demikian modern kita miliki ? Bukankah masih banyak kebutuhan rakyat yang demikian mendesak ? Bukan hanya papannya.Bukan hanya sandangnya. Tetapi juga pangannya.
Adalah bijaksana manakala Prabowo tidak mengikuti jejak pendahulunya yang mewariskan proyek-proyek demi ketenaran diri sendiri tanpa memikirkan isi perut rakyat yang sudah lebih dari 80 tahun menanti***
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






