ADVERTISEMENT
Oleh
Prof. Dr. Endang Komara, M.S
ADVERTISEMENT
Bangsa Indonesia tengah menapaki jalan panjang menuju cita-cita besar sebagai negara maju. Target Indonesia Emas 2045 bukan sekadar jargon, melainkan sebuah agenda peradaban yang menuntut kualitas sumber daya manusia yang unggul, berdaya saing, dan berkarakter. Untuk mencapainya, pendidikan tinggi memegang peran sentral.
Kampus tidak lagi hanya menjadi tempat menimba ilmu, melainkan pusat pembentukan karakter, pengembangan kreativitas, dan wadah kontribusi nyata bagi masyarakat. Pertanyaan yang kemudian muncul: Quo Vadis atau ke manakah arah kampus berdampak yang sedang digaungkan pemerintah?
Kampus sebagai Fondasi Transformasi
Pendidikan tinggi adalah lokomotif transformasi sosial dan ekonomi. Perguruan tinggi yang berdampak bukan hanya menghasilkan lulusan dengan ijazah, tetapi mencetak generasi yang mampu mentransfer pengetahuan menjadi tindakan nyata.
Mahasiswa didorong untuk memadukan hard skills yang tangguh dengan soft skills yang membumi: keterampilan komunikasi, kepemimpinan, integritas, dan kepedulian sosial.
Inilah tantangan besar yang harus dijawab oleh setiap perguruan tinggi. Sebab, di era globalisasi dan disrupsi teknologi, kemampuan akademik semata tidak cukup. Dunia kerja dan masyarakat menuntut insan yang adaptif, kreatif, serta resilien menghadapi perubahan zaman.
PKKMB sebagai Gerbang Awal
Salah satu pintu masuk menuju kampus berdampak adalah melalui program Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB). Kegiatan ini bukan sekadar seremonial tahunan, melainkan ruang strategis untuk membentuk jati diri mahasiswa. Di sinilah mahasiswa baru diperkenalkan pada nilai-nilai luhur bangsa, budaya akademik, serta orientasi tridharma perguruan tinggi.
Tujuan utama PKKMB jelas: membantu mahasiswa melewati transisi dari masa remaja menuju kedewasaan, mempercepat adaptasi dengan lingkungan kampus, serta memberi bekal agar mampu menempuh pendidikan tinggi dengan sukses.
Dengan pengelolaan yang tepat, PKKMB dapat menjadi momentum penguatan karakter dan penginternalisasian nilai kebangsaan. Mahasiswa baru diharapkan tumbuh sebagai insan akademis yang berintegritas, memiliki ketangguhan mental, sekaligus mencintai tanah air.
Menyiapkan Generasi Berdaya Saing
Kampus berdampak harus mampu menjawab kebutuhan zaman. Di tengah persaingan global, mahasiswa Indonesia perlu memiliki daya saing yang setara dengan lulusan universitas dunia.
Hal ini hanya dapat dicapai jika perguruan tinggi konsisten mengintegrasikan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan pembinaan moral serta spiritual.
Lulusan yang dicetak bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki keluhuran akhlak, integritas sosial, serta kepedulian terhadap keberlanjutan bangsa.
Selain itu, mahasiswa harus didorong untuk berkontribusi nyata dalam masyarakat. Program kampus berdampak hendaknya menumbuhkan kesadaran sosial melalui pengabdian masyarakat, riset aplikatif, dan kolaborasi dengan dunia usaha serta dunia industri.
Dengan demikian, kehadiran kampus tidak berhenti di ruang akademik, tetapi benar-benar memberi dampak positif bagi masyarakat luas.
Tantangan di Era Disrupsi
Meski gagasan kampus berdampak sangat ideal, realisasinya bukan tanpa kendala. Pertama, masih terdapat kesenjangan mutu pendidikan tinggi di Indonesia, baik antara perguruan tinggi negeri maupun swasta, kota besar maupun daerah.
Kedua, paradigma sebagian masyarakat masih menilai pendidikan tinggi hanya sebagai jalur memperoleh gelar dan pekerjaan, bukan sebagai proses pembentukan insan yang utuh.
Ketiga, perubahan teknologi yang begitu cepat menuntut kampus beradaptasi, sementara kurikulum sering kali tertinggal dibanding kebutuhan dunia kerja.
Untuk itu, pemerintah bersama perguruan tinggi perlu menyusun strategi yang komprehensif. Transformasi digital, peningkatan mutu dosen, kolaborasi internasional, hingga penyediaan sarana pembelajaran yang merata harus menjadi prioritas. Tanpa langkah nyata, konsep kampus berdampak hanya akan menjadi slogan kosong.
Menatap Indonesia Emas 2045
Visi Indonesia Emas 2045 hanya bisa diwujudkan jika pendidikan tinggi berani keluar dari zona nyaman. Kampus harus tampil sebagai agen perubahan sosial, bukan sekadar pabrik ijazah.
Mahasiswa perlu dibekali keberanian berpikir kritis, kemampuan berinovasi, dan semangat pengabdian. PKKMB tahun 2025 dan seterusnya sebaiknya tidak hanya menjadi rutinitas tahunan, melainkan sebuah proses sistematis membangun generasi penerus bangsa.
Akhirnya, Quo Vadis kampus berdampak sangat bergantung pada komitmen semua pihak: pemerintah, perguruan tinggi, dosen, mahasiswa, serta masyarakat.
Jika seluruh elemen bersinergi, kampus akan benar-benar menjadi pusat lahirnya generasi unggul insan akademis yang memiliki kedalaman ilmu, keluhuran akhlak, cinta tanah air, dan daya saing global.
Dari kampus yang berdampak, kita bisa berharap lahirnya pemimpin masa depan yang membawa Indonesia mencapai cita-cita besar pada 2045. *** Semoga ***.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






