Kamis, 26 Februari 2026 6:51

KORANMANDALA.COM – Bencana hidrometeorologi yang melanda wilayah Sumatera Barat, Sumatera Utara dan Aceh meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat. Data terbaru Senin (15/12) mencatat 1.029 jiwa meninggal dunia, sementara 206 orang masih hilang dan lebih dari 7.000 orang terluka.

Sebanyak 52 kabupaten terdampak, dengan korban terbanyak di Kabupaten Agam (187 jiwa) dan Tapanuli Tengah (163 jiwa).

Bencana ini juga merusak 186.488 rumah di berbagai daerah. Infrastruktur publik mengalami kerusakan parah: 1.600 fasilitas umum rusak, 434 rumah ibadah hancur, 219 fasilitas kesehatan terdampak, 290 gedung/kantor rusak, 967 fasilitas pendidikan tidak dapat digunakan, 145 jembatan putus.

Siklon dan Monsun, Hadirkan Bencana Hidrometeorologi di Asia Tenggara dan Selatan

Jumlah pengungsi mencapai 624.670 jiwa. Meski ada penurunan di beberapa wilayah, banyak warga memilih mengungsi secara mandiri ke rumah kerabat. Mereka tetap tercatat sebagai pengungsi dan mendapat dukungan logistik dari pemerintah.

Aceh Tamiang mencatat sebanyak 208 ribu pengungsi, menjadikannya daerah dengan jumlah pengungsi terbanyak.

Tim SAR dan Basarnas bekerja tanpa henti di sektor-sektor pencarian. Di Aceh, operasi difokuskan di Kabupaten Aceh Utara, Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Bireuen. Di Sumatra Utara, pencarian dilakukan di Tapanuli Selatan dan Kota Sibolga. Sementara di Sumatra Barat, tim menyisir Kabupaten Agam serta aliran Sungai Batang Anai.

Kondisi pengungsian penuh keterbatasan: akses air bersih, layanan kesehatan, dan ruang layak huni masih menjadi tantangan besar BNPB dan tim SAR.

Exit mobile version