ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Menurut data terbaru BNPB per 4 Desember 2025, sebanyak 776 orang meninggal dunia akibat banjir dan longsor di Sumatra. Sementara itu, lebih dari 564 orang masih hilang dan 50 kabupaten/kota terdampak.
Selain menimbulkan korban jiwa dan pengungsian massal, bencana banjir dan longsor di Sumatra juga merusak berbagai fasilitas vital.
BNPB mencatat 378 fasilitas umum rusak, 144 rumah ibadah terdampak, 9 fasilitas kesehatan hancur, 105 gedung/kantor rusak, 225 fasilitas pendidikan tidak dapat digunakan, serta 295 jembatan putus.
ADVERTISEMENT
Kerusakan infrastruktur ini semakin menyulitkan akses bantuan dan memperlambat proses evakuasi di sejumlah wilayah terdampak.
Dengan meningkatnya intensitas bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda tiga provinsi: Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meluncurkan Geoportal Data Bencana Indonesia untuk memantau bencana di Sumatra tahun 2025 secara real time di https://gis.bnpb.go.id/BANSORSUMATERA2025/.

Belum Ditetapkan Bencana Nasional
Meski skala bencana sangat besar, pemerintah pusat menegaskan bahwa status bencana nasional belum ditetapkan.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menekankan bahwa fokus utama adalah percepatan penanganan di lapangan dengan dukungan penuh pemerintah pusat.
Presiden Prabowo Subianto telah menginstruksikan agar seluruh kementerian, lembaga, TNI, dan Polri mengerahkan sumber daya maksimal, termasuk alokasi Dana Siap Pakai Rp500 miliar yang dapat ditambah sesuai kebutuhan.
Menko PMK Pratikno menambahkan bahwa situasi ini diperlakukan sebagai prioritas nasional, sehingga jaminan pendanaan dan logistik tersedia secara penuh.
“Yang paling penting adalah bukan masalah statusnya, tapi sekali lagi adalah masalah penanganannya, kemudian support atau back up dari pemerintah pusat terhadap pemerintah daerah, provinsi, maupun kabupaten,” kata Mensesneg Prasetyo Hadi seperti dikutip setneg.go.id (4/12). ***
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






