ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Tokoh publik Anies Rasyid Baswedan menekankan pentingnya pendekatan movement atau gerakan bersama dalam pembangunan infrastruktur sosial, khususnya jembatan gantung bagi warga di daerah yang masih terisolasi.
Hal itu ia sampaikan saat merefleksikan kembali program pembangunan jembatan orang yang digerakkan melalui Aksi Bersama, di acara Catalyst Impact Forum yang digelar oleh Sasaka Indonesia di Hotel Grand Pasundan Bandung, pada Rabu, (3/12/2025).
Menurutnya, ada sejumlah alasan kuat mengapa pembangunan jembatan gantung memilih jalur gerakan kolaboratif, bukan sekadar program formal.
ADVERTISEMENT
“Pertama, banyak kebutuhan masyarakat yang belum tersentuh negara. Kedua, jembatan ini manfaatnya tidak diskriminatif siapa pun bisa melintas. Ketiga, bentuknya punya awal dan akhir, sehingga cocok untuk gerakan dan keempat, manfaatnya terbukti mampu menginspirasi pihak lain untuk ikut bergerak,” kata Anies.
Ia menyebut, salah satu kendala muncul karena sungai kerap menjadi batas administrasi daerah. Akibatnya, jembatan kecil yang sangat dibutuhkan warga tidak masuk prioritas pembangunan. Melihat kondisi itu, Aksi Bersama bersama Sasaka mencoba menghadirkan solusi melalui pendekatan gerakan masyarakat, bukan sekadar proyek pemerintah.
Anies juga menyoroti besarnya potensi filantropi umat seperti zakat, infak, sedekah, dan wakaf yang selama ini belum tersalurkan optimal karena masih terjebak dalam pola pikir program.
“Jika potensi besar itu disatukan dalam kerangka gerakan, dampaknya akan luar biasa,” jelasnya.
Ia mengingatkan bahwa Indonesia pernah menjadi inspirasi dunia melalui kekuatan gerakan sosial. Karena itu, Anies meyakini bangsa ini mampu mengulang kembali catatan sejarah tersebut.
“Jika Indonesia bergerak dengan semangat gerakan, dunia akan melihat bahwa pembangunan besar bisa dilakukan oleh kekuatan bangsa sendiri,” pungkasnya.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






