KORANMANDALA.COM – Tokoh publik Anies Rasyid Baswedan menekankan pentingnya mengembalikan semangat pembangunan berbasis gerakan (movement) dalam berbagai program pembangunan nasional. Pesan itu disampaikan Anies pada saat menjadi pembicara di acara Catalyst Impact Forum yang diselenggarakan oleh Sasaka Indonesia di Hotel Grand Pasundan Bandung pada Rabu, (3/12/2025).
Anies menjelaskan ketika masyarakat melihat persoalan entah desa yang belum terhubung jembatan atau wilayah yang minim fasilitas pendidikan rasa terpanggil untuk menyelesaikan masalah adalah hal yang alami. Namun dalam praktiknya, ada dua pendekatan yang kerap digunakan programatik dan gerakan.
“Pendekatan programatik adalah ketika kita mengumpulkan sumber daya untuk menyelesaikan masalah. Selesai, lalu kita lanjut ke masalah berikutnya,” ujar Anies.
Pendekatan ini, menurutnya, lebih teknokratis dan biasanya dikerjakan oleh lembaga negara secara mandiri. Sebaliknya, pendekatan gerakan melibatkan masyarakat secara luas.
“KPI-nya berbeda. Semakin banyak yang terlibat, semakin baik. Semakin cepat masalah selesai, semakin baik,” tuturnya.
Pendekatan ini memang lebih ramai, lebih dinamis, namun menciptakan rasa memiliki dari masyarakat. Anies menilai Indonesia sejak 1950-an terjebak dalam arus pembangunan programatik, terutama setelah bantuan internasional mengalir dengan berbagai indikator dan kerangka teknisnya.
“Negara bekerja, masyarakat menerima. Padahal republik ini lahir dari gerakan,” katanya.
Ia mencontohkan Gerakan Pemberantasan Buta Huruf 1947–1948, ketika 95 persen rakyat tidak bisa membaca. Alih-alih membuat program besar yang dikerjakan negara, Bung Karno justru menggerakkan rakyat siapa pun yang bisa membaca diminta mengajar.
“Teras rumah dan pendopo jadi kelas belajar. Semua bergerak,” ucapnya.
Begitu pula pada era 1950–1960-an ketika gedung SMA sudah dibangun tetapi kekurangan guru. Solusinya bukan membuka rekrutmen besar-besaran, melainkan menggerakkan mahasiswa menjadi pengajar.
“Itu hanya mungkin ketika negara dipercaya,” tegas Anies.