Kamis, 26 Februari 2026 6:51

KORANMANDALA.COM – Ada sejumlah faktor yang menyebabkan seseorang terkena penyakit diabetes. Selain faktor genetik atau keturunan, mengonsumsi makanan maupun minuman yang manis bisa menjadi pemicu munculnya penyakit tersebut.

Minuman manis terlebih dingin dianggap dapat menyegarkan seseorang apalagi bila cuaca sangat mendukung dengan kata lain saat panas terik. Es teh menjadi salah satu pilihan utama orang untuk menghilangkan dahaga. Tak heran penjual es teh begitu menjamur di pinggir jalan dengan berbagai merek.

Meski banyak imbauan dari berbagai pihak terkait dampak terlalu banyak mengonsumsi minuman manis, tak membuat Juna (25), salah seorang penjual es teh kaki lima berganti dagangannya. Pasalnya, menurut dia, diabetes bisa dihindari dengan mengatur pola hidup termasuk minuman.

“Tergantung ya. Kan itu kembali ke orangnya ya, gaya hidupnya gimana. Kalau saya sebagai pedagang ga terlalu pengaruh, tapi bukan tidak peduli juga ya,” ujarnya.

Juna yang berjualan di kawasan PSM, Kiaracondong, Kota Bandung, mengklaim produknya aman dan terjamin. Terlebih dia menggunakan gula murni bukan biang gula, serta telah melalui takaran yang sesuai. Dia pun mengaku ada cukup banyak pembeli yang meminta “less sugar”.

“Banyak yang meminta less sugar, ya kita ikutin aja walaupun sebenarnya kalau dari takaran udah diatur. Jadi caranya paling air putih lebih dibanyakin aja,” terang sosok yang sudah berjualan sekira 6 bulan ini.

(avila/koranmandala)

Hal senada diutarakan Fahri (31), salah seorang penjual martabak di daerah Kiaracondong. Supaya tidak terkena diabetes, kembali ke individunya masing-masing. Namun, dia tak menyangkal martabak manis khususnya topping coklat kacang menjadi favorit konsumennya.

“Tapi banyak juga sekarang yang minta manisnya dikurangi. Caranya ya paling ngurangin coklat dengan gulanya aja,” tuturnya.

Bahkan, diungkap pria asal Tegal ini, banyak pula pembeli yang sudah aware dengan pola hidup sehat. Terbukti ada beberapa konsumen yang meminta mentega untuk dikurangi. Khusus martabak telor, banyak yang menginginkan sayurnya dilebihkan dari biasanya.

“Jadi alhamdulillah penjualan ga terganggu karena pembelinya sendiri yang sudah paham dan mengatur kahayangna (keinginannya) kumaha (bagaimana),” katanya.

(avila/koranmandala)

Sedangkan bagi Roni (45), salah seorang pedagang minuman dingin dengan boba, memandang penyakit diabetes karena faktor turunan. Terlebih dirinya memiliki saudara yang terkena diabetes saat usianya 30 tahun.

“Yang terpenting pola makan aja diatur. Kalau saya ngopi biasa sehari empat kali, alhamdulillah sampai hari ini masih sehat,” ucapnya.

Mengenai penjualan, dia mengaku tak ada pengaruh meski ada penurunan yang disebabkan kondisi perekonomian saat ini. Apalagi mayoritas konsumennya adalah anak-anak lantaran dia berjualan di lingkungan sekolah dasar. Namun begitu, tetap ada pembeli yang meminta untuk rasa manisnya dikurangi.

“Ya ada aja. Kalau udah gitu paling ditambahin air putihnya aja. Yang paling sering dipesan ya rasa coklat, permen karet sama karamel, kadang pakai boba juga,” pungkasnya.

Koranmandala.com

Exit mobile version