ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

KORANMANDALA.COM –Pagi baru saja menyapa di sebuah rumah sederhana di pinggiran Kota . Di dapur sempit yang beraroma nasi hangat, seorang gadis muda tampak sibuk menyiapkan sarapan. Tangannya cekatan, meski gerakannya terbatas oleh perutnya yang kian membesar.

Usianya baru 17 tahun, namun tanggung jawab yang dipikulnya jauh melampaui angka itu. Ia bukan lagi siswi SMA yang memikirkan tugas sekolah atau rencana kuliah, melainkan istri muda yang tengah menunggu kelahiran anak pertamanya. Sebut saja Bunga.

Saat teman-teman sebayanya sedang mempersiapkan ujian akhir, Bunga sudah mempersiapkan diri menjadi ibu rumah tangga.

ADVERTISEMENT

LIPSUS: Kemacetan Curi Rezeki Sopir Angkot, Bandung Butuh Aksi – Angkot Pintar Masih Ilusi?

“Bukan karena paksaan, tapi karena keadaan,” ucapnya pelan, sambil mengelus perutnya yang berusia delapan bulan.

Ekonomi keluarga yang terpuruk setelah kepergian ayah membuat Bunga mengambil keputusan besar: menikah muda.

“Suami saya sudah kerja. Saya pikir ini jalan terbaik untuk bantu keluarga,” katanya lirih.

Namun “jalan terbaik” itu ternyata tidak semulus yang dibayangkan. Pernikahan Bunga dilakukan secara siri, karena usianya belum cukup untuk menikah secara resmi.

Tanpa buku nikah, tanpa jaminan hukum, dan tanpa akses layanan publik seperti BPJS Kesehatan, kini Bunga hidup dalam ketidakpastian.

“Kadang saya takut,” ucapnya dengan mata berkaca. “Kalau nanti anak saya lahir, gimana ngurus akte kelahirannya? Tapi saya harus kuat.”

Di wajah Bunga, tersimpan kisah tentang banyak gadis di Garut yang terjebak dalam lingkaran kemiskinan dan sebuah siklus yang seolah sulit diputus.

Mawar, 15 Tahun: “Menikah Muda Itu Nggak Enak”

Berbeda dengan Bunga, kisah Mawar yang menikah saat usianya baru menginjak 15 tahun dimulai dari pergaulan yang salah arah.

Suatu sore, di teras rumah yang sempit, gadis berwajah pucat itu mencoba mengurai cerita yang baginya terlalu berat untuk diingat.

“Dulu saya sering kabur dari rumah,” ujarnya pelan. “Main, nongkrong, kenalan sama banyak orang. Saya pikir itu kebebasan.”

Namun kebebasan itu justru menyeret Mawar ke jalan yang berliku. Dari pergaulan bebas, ia akhirnya menikah secara siri dengan seorang pria yang dikenalnya.

“Awalnya saya pikir enak punya suami. Ternyata nggak. Saya nggak siap jadi ibu,” katanya, suaranya bergetar. “Menikah muda itu nggak enak.”

Kini, Mawar hidup dalam tekanan ekonomi yang menyesakkan. Suaminya bekerja sebagai tukang tambal ban, penghasilannya tidak menentu, sementara tanggung jawab terus bertambah.

Ia sudah memiliki seorang anak berusia tiga tahun, namun takdir memberinya ujian yang jauh lebih berat anaknya didiagnosis hidrosefalus, penumpukan cairan di kepala yang menyebabkan pembesaran ukuran kepala dan keterlambatan tumbuh kembang.

“Anak saya sakit, kepalanya besar,” ucap Mawar lirih, matanya berkaca. “Dokter bilang harus rutin kontrol, tapi kami nggak punya biaya. Mau ke rumah sakit juga susah, soalnya nggak punya BPJS.” tambahnya.

Keterbatasan ekonomi membuat Mawar sering menahan tangis. Setiap kali melihat anaknya tertidur di tikar lusuh, ia hanya bisa berharap keajaiban datang pada keluarga kecilnya.

“Kadang saya nangis sendiri,” tuturnya. “Kalau ada buku nikah, saya bisa urus BPJS, bisa bawa anak saya berobat. Tapi sekarang semuanya serba susah.”

Meski demikian, Mawar masih berusaha tegar. Ia menahan rasa penyesalan sambil menyampaikan pesan yang dalam untuk remaja lain seusianya.

“Jangan menikah muda,” katanya tegas. “Pilih pergaulan yang benar. Nikah dini itu nggak enak. Saya nyesel.”

Fenomena yang Mengkhawatirkan

Kisah Bunga dan Mawar bukan pengecualian. Data Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Garut mencatat, kasus pernikahan usia anak di daerah ini terus meningkat dalam tiga tahun terakhir.

Banyak yang memilih menikah secara siri demi menghindari batas usia minimal pernikahan sesuai Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019, yaitu 19 tahun bagi laki-laki maupun perempuan.

Faktor ekonomi menjadi penyebab utama. Dalam banyak kasus, keluarga beranggapan bahwa menikahkan anak perempuan bisa “mengurangi beban”. Padahal, keputusan itu justru membuka pintu bagi berbagai risiko: putus sekolah, kekerasan rumah tangga, hingga kemiskinan turun-temurun.

Ketika Masa Depan Terlalu Cepat Datang

Bunga dan Mawar hanyalah dua nama dari ratusan remaja di Garut yang dipaksa dewasa sebelum waktunya.

Di kampung-kampung, kisah mereka berulang berbeda nama, tapi dengan alasan yang sama: kemiskinan, rendahnya pendidikan, dan lemahnya perlindungan.

Pernikahan dini bukan sekadar pelanggaran hukum atau adat, tapi tragedi sosial yang merampas masa depan anak-anak bangsa.

Karena di balik setiap gadis yang kehilangan masa remajanya, ada cita-cita yang tak sempat tumbuh.

Dan di balik setiap “jalan terbaik” yang mereka pilih, ada kenyataan pahit yang harus mereka hadapi sendirian tanpa perlindungan, tanpa kepastian, dan tanpa harapan yang jelas.

Listen to this article

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Koranmandala.com

ADVERTISEMENT