ADVERTISEMENT
KoranMandala.com –Menjelang senja, deretan apartemen di Kota Bandung tampak megah menjulang. Lampu-lampu di balkon mulai menyala, menandai kehidupan urban yang sibuk dan penuh gaya.
Namun, di balik dinding-dinding kaca itu, tersimpan cerita lain: praktik prostitusi online yang kian marak dan nyaris tak tersentuh hukum.
Fenomena ini bukan lagi sekadar bisikan atau rumor. Hampir di setiap kompleks apartemen, ada saja penghuni yang menjajakan dirinya melalui aplikasi dating apps.
ADVERTISEMENT
Modusnya beragam: ada yang terang-terangan menawarkan jasa, ada pula yang membungkusnya dengan embel-embel “pijat” plus beragam paket tambahan. Tarifnya pun bervariasi, mulai dari Rp250.000 hingga Rp700.000, tergantung layanan yang dipilih—dari HJ, BJ, hingga ML, begitu bahasa mereka.
Kisah Mawar, Dua Tahun Menjual Diri di Gateway Cicadas
Sebut saja Mawar, perempuan berusia sekitar 20 tahun yang tinggal di Apartemen Gateway Cicadas. Dengan wajah polos dan kulit kuning langsat, ia sudah dua tahun terjun ke dunia gelap itu.
“Kalau saya menyediakan jasa pijit full service, dari HJ sampai ML,” ucapnya blak-blakan saat ditemui.
Mawar mengaku keputusan menjajakan tubuhnya bukan karena keinginan, melainkan tekanan hidup. Sulitnya mencari pekerjaan dan himpitan ekonomi membuatnya akhirnya memilih jalan pintas. Dalam sehari, ia bisa melayani lebih dari lima pria hidung belang.
“Kalau lagi ramai, ya bisa lima orang lebih. Harganya tergantung paket, ada yang Rp250 ribu, ada juga yang sampai Rp700 ribu,” katanya.
Selama dua tahun beroperasi, Mawar merasa aman-aman saja. Tak pernah ada razia dari aparat atau pemerintah. Apartemen baginya justru menjadi tempat paling aman untuk menjalankan bisnis haram ini.
Bunga, Delapan Tahun di Apartemen Panoramik
Kisah lain datang dari Bunga, penghuni Apartemen Tamansari Panoramik di kawasan Jalan Soekarno-Hatta. Berbeda dengan Mawar, Bunga sudah delapan tahun bergelut di dunia prostitusi online.
“Kalau lagi rame bisa 6-8 orang sehari, kalau lagi sepi paling dua,” ungkapnya santai.
Perempuan asal Subang itu menjelaskan, ia biasanya mematok tarif Rp200.000 hanya untuk pijat. Namun, jika pelanggan menginginkan layanan lebih, tarifnya bisa naik menjadi Rp300.000 hingga Rp600.000, tergantung jenis paket yang dipilih.
Bunga mengaku, meski sudah lama menekuni bisnis ini, dirinya jarang merasa khawatir. Apartemen baginya adalah ‘zona aman’ sekaligus tempat paling nyaman untuk menjalankan pekerjaan haramnya.
Apartemen Jadi Zona Aman Prostitusi Online
Mawar dan Bunga hanyalah potret kecil dari fenomena besar yang tengah melanda Bandung. Hampir semua apartemen disebut menjadi lokasi praktik prostitusi online, dari kawasan pusat kota hingga pinggiran.
Fenomena ini tumbuh subur seiring berkembangnya aplikasi pesan instan dan dating apps yang memudahkan transaksi. Apartemen dipilih karena lebih privat, mudah diakses, dan sulit terdeteksi.
Ironisnya, pemerintah kota dan aparat keamanan terkesan abai. Razia nyaris tak pernah dilakukan, sementara manajemen apartemen cenderung menutup mata.
Dampak Sosial yang Terabaikan
Maraknya prostitusi online di apartemen Bandung membawa dampak serius. Bukan hanya meresahkan penghuni lain, tapi juga merusak citra kota yang dikenal sebagai kota pendidikan dan wisata. Ancaman penyakit menular seksual pun membayangi.
Di sisi lain, fenomena ini menunjukkan lemahnya pengawasan pemerintah kota Bandung terhadap pengelolaan apartemen. Regulasi longgar dan minimnya koordinasi antara Satpol PP, kepolisian, serta manajemen apartemen membuat bisnis gelap ini kian berkembang.
Di balik tembok kaca apartemen Bandung yang tampak modern dan mewah, tersimpan ironi urban: prostitusi online yang makin merajalela. Kisah Mawar dan Bunga hanya dua dari ratusan, bahkan mungkin ribuan cerita serupa. Pertanyaannya, sampai kapan praktik ini dibiarkan tanpa solusi?
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






