ADVERTISEMENT
KORAN MANDALA –Grand Hotel Preanger Bandung memasuki babak baru setelah resmi bergabung dengan Tribute Portfolio, salah satu brand dalam jaringan Marriott Bonvoy yang menaungi hotel-hotel independen dengan karakter dan identitas yang kuat.
Bergabungnya hotel bersejarah di Jalan Asia Afrika tersebut menjadi debut pertama Tribute Portfolio di Jawa Barat.
Dengan 188 kamar dan suite, Grand Hotel Preanger kini membawa identitas sejarah dan arsitektur Bandung ke dalam jaringan perhotelan global.
ADVERTISEMENT
Bukan Sekadar Bertanding, Atlet SOIna Bandung Bawa Pesan Kesetaraan di Pesonas II 2026
Langkah tersebut sekaligus menjadi upaya mempertahankan karakter Grand Hotel Preanger yang telah menjadi bagian dari sejarah Kota Bandung selama lebih dari satu abad. Hotel yang berdiri sejak 1897 itu dikenal dengan warisan arsitektur Tropical Art Deco yang melekat pada bangunannya.
Bangunan hotel tersebut kemudian didesain ulang pada 1929 oleh arsitek Belanda C.P. Wolff Schoemaker dengan sentuhan desain dari Soekarno, yang kemudian menjadi Presiden pertama Indonesia.
Melalui konsep “Heritage, Reimagined”, Grand Hotel Preanger mempertahankan sejumlah elemen sejarah sembari menghadirkan desain kontemporer dan fasilitas modern. Konsep tersebut menjadi bagian dari upaya hotel menghubungkan pengalaman menginap dengan sejarah, budaya dan kehidupan masyarakat Kota Bandung.
“Tribute Portfolio menyatukan hotel-hotel independen yang memiliki karakter kuat, desain yang menawan, serta kedekatan erat dengan komunitas lokalnya,” ujar Ramesh Jackson, Regional Vice President, Indonesia & Malaysia, Marriott International.
Menurutnya, Grand Hotel Preanger memiliki karakter yang sesuai dengan konsep Tribute Portfolio karena memiliki sejarah panjang dan posisi yang kuat dalam perkembangan budaya Kota Bandung.
Selain aspek sejarah, hotel tersebut menawarkan 188 kamar dan suite dengan desain yang mengambil inspirasi dari warisan Art Deco Bandung. Kamar berukuran mulai 32 meter persegi itu memadukan elemen historis dengan fasilitas yang disesuaikan dengan kebutuhan wisatawan saat ini.
Lokasinya di Jalan Asia Afrika juga menempatkan hotel berada di kawasan yang menjadi salah satu pusat sejarah Kota Bandung. Sejumlah destinasi seperti Jalan Braga, Gedung Merdeka, Museum Konferensi Asia Afrika dan Alun-Alun Bandung berada di sekitar hotel.
Dari sisi kuliner, Grand Hotel Preanger menghadirkan Huis Van Preanger sebagai restoran all-day dining dan The Saloon Lounge sebagai ruang sosial. Huis Van Preanger menawarkan hidangan internasional, kuliner Indonesia serta cita rasa Jawa Barat, termasuk menu bernuansa Belanda melalui area Dutch Corner.
Sementara The Saloon Lounge menghadirkan kopi lokal, afternoon tea serta pertunjukan musik Sunda dan jazz untuk membangun ruang interaksi antara tamu hotel dan masyarakat.
Untuk kebutuhan pertemuan dan acara, hotel memiliki area seluas 1.993 meter persegi, termasuk ballroom 678 meter persegi dengan kapasitas hingga 800 orang serta 11 ruang pertemuan.
Multi-Property General Manager Grand Hotel Preanger Bandung dan Four Points by Sheraton Bali, Ungasan, Lily Wijaya mengatakan identitas sejarah menjadi salah satu kekuatan utama hotel tersebut dalam memasuki babak baru bersama Tribute Portfolio.
“Grand Hotel Preanger Bandung selalu menjadi tempat di mana sejarah, budaya, dan komunitas bersatu,” ujarnya.
Ke depan, pengembangan hotel juga mencakup rencana pembukaan spa dan pusat kebugaran baru pada 2027.
Dengan bergabungnya Grand Hotel Preanger ke Tribute Portfolio, hotel yang telah melewati perjalanan lebih dari satu abad tersebut tidak hanya mempertahankan identitas historisnya, tetapi juga memperluas aksesnya ke jaringan wisatawan global melalui Marriott Bonvoy.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT





