KORAN MANDALA –Sosok pocong, kuntilanak, hingga karakter hantu lainnya mungkin sudah tak asing bagi warga yang melintas di sejumlah kawasan jalan utama Kota Bandung.
Namun, bagaimana jika di balik kostum dan riasan menyeramkan itu ternyata ada manusia yang sedang berusaha menyembunyikan luka hidupnya?
Pertanyaan itulah yang coba dijawab film Conjurig, komedi drama yang mengangkat kehidupan para cosplayer hantu di jalanan Bandung. Film garapan Global Borneo Entertainment bersama Bima Sakti Pictures dan Imagine tersebut dijadwalkan mulai tayang di bioskop pada 1 Oktober 2026.
Trailer perdana Conjurig telah dirilis dan bisa disaksikan melalui akun Instagram @conjurig.film. Dalam durasi 1 menit 46 detik, penonton diperkenalkan pada dua karakter yang sama-sama menggunakan kostum sebagai cara untuk bersembunyi dari persoalan hidup mereka.
Ada Piit, diperankan Dito Darmawan, seorang pemuda yang memilih menjadi cosplayer pocong di kawasan Alun-Alun Bandung. Pilihan itu bukan sekadar pekerjaan atau hiburan jalanan.
Piit menjadikan karakter pocong sebagai semacam tempat berlindung setelah kehilangan pekerjaan sekaligus ditinggalkan kekasih.
Di sisi lain, muncul Tamy yang diperankan Maizura. Berbeda dengan Piit, Tamy tampil sebagai cosplayer bergaya gothic yang menyimpan persoalan identitasnya sendiri.
Ia diam-diam berusaha melepaskan diri dari bayang-bayang statusnya sebagai putri seorang penyanyi ternama.
Dua orang dengan masalah masing-masing itu kemudian dipertemukan di jalanan Bandung. Dari pertemuan tersebut, cerita Conjurig bergerak antara kelucuan, kecanggungan, dan upaya dua manusia untuk berdamai dengan masa lalu.
Film ini terinspirasi dari Comjurig, komunitas di Bandung yang beranggotakan para cosplayer dengan kostum karakter hantu atau “jurig” dalam bahasa Sunda.
Sutradara Conjurig, Tubagus Deddy, mengatakan kehidupan para penampil jalanan menjadi salah satu kekuatan utama film tersebut. Ia mencoba menghadirkan sisi lain dari dunia cosplayer hantu yang selama ini mungkin hanya dilihat sebagai hiburan di ruang publik.
“Alun-Alun Bandung punya energi yang unik, ramai, hangat, dan penuh kejutan kecil di setiap sudutnya. Kami ingin trailer ini menangkap energi itu sekaligus memperkenalkan Piit dan Tamy sebagai dua orang yang mencoba sembunyi dari masalah, tapi justru menemukan diri mereka sendiri di tengah keramaian,” kata Deddy.
Nuansa Bandung pun menjadi bagian penting dalam film. Jalanan, keramaian, dan kehidupan para penampil menjadi latar yang memperkuat cerita sekaligus memperkenalkan fenomena cosplayer hantu sebagai bagian unik dari wajah kota.
Namun, Conjurig tidak hanya mengandalkan kelucuan dari karakter-karakternya. Di balik kostum hantu dan situasi komedi, film ini membawa cerita tentang orang-orang yang membutuhkan ruang untuk berhenti sejenak dari persoalan hidup.
Muhammad Ariza Darmawan dari Global Borneo Entertainment mengatakan film tersebut ingin menyampaikan pesan bahwa seseorang terkadang membutuhkan ruang untuk bersembunyi sebelum kembali menghadapi kehidupan.
“Kami percaya Conjurig akan menyentuh banyak orang, bukan cuma karena komedinya yang segar dan dekat, tapi juga karena pesan di baliknya, bahwa semua orang butuh ruang untuk sembunyi, mencoba hal baru, keluar dari zona nyaman, sebelum berani menghadapi dunia lagi,” ujar Ariza.
Sementara itu, produser Conjurig, Budi Ismanto, menyebut film tersebut juga membawa unsur musikal. Sejumlah lagu baru dengan karakter easy listening dan catchy turut menjadi bagian dari cerita.
“Pokoknya, Conjurig ini film unik dan lengkap serta tentu saja sangat menghibur,” kata Budi.
Selain Dito Darmawan dan Maizura, Conjurig juga dibintangi Ferry Maryadi, Mathias Muchus, Shella Fernanda, Bucek Deep, Joe P Project, Trie Utami, Anyun Cadel, Ikbal Fauzi, dan Wina Marrino.
Kini, “jurig-jurig” Bandung itu bersiap meninggalkan jalanan dan masuk ke layar lebar. Conjurig dijadwalkan tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia mulai 1 Oktober 2026.
