ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Ngabuburit di Bandung tak melulu soal kafe modern atau pusat perbelanjaan. Menyusuri kawasan bersejarah kota justru menawarkan pengalaman menunggu adzan Maghrib yang lebih tenang, reflektif, sekaligus edukatif.
Saat sore menjelang, denyut Kota Kembang tempo dulu masih terasa di kawasan pusaka. Deretan bangunan bergaya Art Deco menghadirkan suasana khas yang berbeda dari hiruk pikuk kota modern.
Di bulan Ramadhan, aktivitas ini menjadi ruang jeda mengajak warga menengok kembali identitas Bandung yang sejak awal abad ke-20 dikenal sebagai Paris van Java dengan tata ruang dan arsitektur yang terencana.
ADVERTISEMENT
Menunggu Kereta, Menjemput Rezeki: Kisah Pak Dadang, Porter Sepanjang Zaman di Stasiun Bandung
Menyusuri Garis Waktu Kota: Ngabuburit di Jantung Bandung
Perjalanan ngabuburit heritage dapat dimulai dari kawasan Gedung Sate dan Lapangan Gasibu. Bangunan ikonik yang dibangun pada awal abad ke-20 itu hingga kini masih berfungsi sebagai pusat pemerintahan Jawa Barat, sekaligus penanda penting sejarah perencanaan kota Bandung.
Menjelang sore, kawasan ini ramai oleh warga yang berjalan santai, berolahraga ringan, atau sekadar menikmati ruang terbuka publik.
Aktivitas sederhana seperti mengamati detail ornamen Gedung Sate dan lanskap sekitarnya menghadirkan kesadaran bahwa ruang kota ini sejak awal dirancang sebagai titik temu antara sejarah dan kehidupan sosial.
Teduhnya Cipaganti: Ibadah, Sejarah, dan Kota yang Melambat
Dari Gedung Sate, perjalanan dapat dilanjutkan ke Jalan Cipaganti. Kawasan ini dikenal dengan deretan pohon mahoni tua dan rumah-rumah bergaya Indische, perpaduan arsitektur Eropa dengan adaptasi iklim tropis yang menjadi ciri khas Bandung lama.
Di jalur ini berdiri Masjid Cipaganti, salah satu masjid paling bersejarah di Kota Bandung. Dirancang oleh arsitek ternama C.P. Wolff Schoemaker yang juga merancang Gedung Merdeka masjid ini bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga artefak arsitektur kota.
Menunggu waktu Maghrib di Masjid Cipaganti menghadirkan pengalaman berbeda: ibadah berlangsung di ruang yang sarat sejarah, ketika kota seolah melambat dan memberi ruang kontemplasi di tengah Ramadhan.
Berbuka Puasa dengan Nuansa Tempo Dulu
Usai adzan Maghrib, kawasan Braga menjadi pilihan alami untuk melanjutkan perjalanan. Jalan legendaris ini masih mempertahankan suasana klasik dan menjadi titik temu antara sejarah, seni, dan kuliner.
Beberapa tempat yang kerap dipilih untuk berbuka puasa dengan nuansa tempo dulu antara lain:
-
Braga Art Cafe, dengan interior kayu dan nuansa vintage yang menyatu dengan bangunan cagar budaya.
-
Kopi Toko Djawa, kafe di bekas toko buku lama yang cocok untuk bersantai selepas berbuka.
-
Braga Permai, salah satu restoran tertua di Bandung yang mempertahankan gaya kolonial klasik dan menu legendaris sejak puluhan tahun silam.
Tips Nyaman Menikmati Ngabuburit Heritage
-
Gunakan alas kaki yang nyaman karena rute ini lebih ideal dijelajahi dengan berjalan kaki.
-
Datang lebih awal, sekitar pukul 16.00 WIB, untuk menghindari kepadatan lalu lintas pusat kota.
-
Pastikan baterai ponsel penuh karena banyak spot foto menarik di sepanjang rute.
-
Tetap menjaga etika di kawasan cagar budaya serta menghormati aktivitas ibadah di sekitar masjid.
Ngabuburit heritage bukan sekadar alternatif mengisi waktu menjelang berbuka. Ia menjadi perjalanan kecil untuk mengenali kembali jati diri kota bahwa Bandung hari ini berdiri di atas proses sejarah yang panjang.
Di bulan suci Ramadhan, menunggu adzan Maghrib pun bisa menjadi ruang refleksi, ketika masa lalu dan masa kini bertemu dalam langkah-langkah senja.
Luqman Dwirizal Arifin/MG
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






