ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Pecinan Bandung merupakan istilah yang merujuk pada kawasan permukiman dan pusat aktivitas ekonomi komunitas Tionghoa di Kota Bandung.
Meski tidak memiliki batas administratif resmi seperti Pecinan di kota lain, jejak keberadaannya tetap nyata dan dapat ditelusuri melalui sejarah perdagangan yang berkembang sejak masa kolonial.
Salah satu titik paling menonjol dari aktivitas komunitas Tionghoa di Bandung berada di Pasar Baru Bandung, yang hingga kini dikenal sebagai pusat perdagangan utama kota.
ADVERTISEMENT
Persib Bandung Dijatuhi Tiga Sanksi AFC, Total Denda Capai Rp505 Juta
Kawasan ini telah menjadi ruang ekonomi lintas generasi bagi pedagang Tionghoa dan menjadi simbol kuat keberlanjutan aktivitas niaga di Bandung.
Penelitian mengenai ruang arcade di Pasar Baru menunjukkan pola ruang pertokoan yang berkembang secara konsisten. Hal ini mencerminkan sejarah ekonomi yang panjang sekaligus memperkuat posisi Pasar Baru sebagai jantung aktivitas Pecinan Bandung.
Motif Ekonomi Komunitas Tionghoa di Bandung
Keberadaan Pecinan Bandung tidak dapat dilepaskan dari motif ekonomi komunitas Tionghoa yang menetap di kota ini. Sejumlah kajian tentang asimilasi sosial di kawasan Chinatown Cibadak Bandung mencatat bahwa kedatangan masyarakat Tionghoa sejak awal dipengaruhi oleh peluang perdagangan yang terbuka luas.
Aktivitas ekonomi tersebut membentuk jaringan niaga yang terhubung dengan pasar-pasar strategis, khususnya Pasar Baru. Kawasan ini kemudian berkembang menjadi simpul penting dalam dinamika ekonomi perkotaan Bandung, yang menopang aktivitas perdagangan hingga saat ini.
Pasar Baru Bandung dan Warisan Heritage Pecinan
Selain sebagai pusat ekonomi, Pasar Baru Bandung juga menyimpan nilai heritage komunitas Tionghoa. Kajian akademik mengenai pengembangan kawasan Pecinan sebagai kawasan cagar budaya menempatkan Pasar Baru sebagai bagian penting dari lanskap sejarah Kota Bandung.
Sejak abad ke-19, kawasan ini merekam memori sosial dan ekonomi masyarakat Tionghoa. Walaupun Pecinan Bandung tidak pernah ditetapkan sebagai kawasan formal, keberadaannya tetap terbaca melalui fungsi perdagangan yang berkelanjutan serta bangunan-bangunan lama yang masih bertahan di sekitar Pasar Baru.
Interaksi Multikultural di Kawasan Pecinan Bandung
Pecinan Bandung tidak hanya merepresentasikan aktivitas ekonomi, tetapi juga ruang interaksi sosial multikultural. Penelitian tentang hubungan etnis Tionghoa dan Sunda di kawasan Chinatown Cibadak menunjukkan adanya adaptasi budaya dan kerja sama yang tumbuh seiring aktivitas perdagangan.
Pola interaksi serupa juga terlihat di Pasar Baru. Hingga kini, kawasan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai pusat perdagangan, tetapi juga sebagai ruang perjumpaan sosial yang membentuk identitas historis Kota Bandung sebagai kota multikultural. (Rifki Rafsanjani/MG)
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






