ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM –Dentuman kendang memecah sore di sebuah kampung di Bandung Timur. Sorak penonton bersahut-sahutan, menyatu dengan langkah kaki para pemain yang saling berhadapan di arena sederhana.
Di tengah hajatan warga, benjang kembali hadir—bukan sekadar pertunjukan, melainkan denyut budaya yang terus bernapas dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Bagi masyarakat Bandung Timur, benjang bukan barang museum. Ia hidup, tumbuh, dan menyatu dengan ritme kehidupan warga.
ADVERTISEMENT
Resah Fenomena Living Together di Lingkungan Kampus, Mahasiswa Bandung : Ingatkan Norma Sosial
Dari khitanan, pernikahan, hingga syukuran kampung, benjang selalu menemukan panggungnya sendiri: lapangan kecil, halaman rumah, atau ruas jalan yang disulap menjadi arena kebudayaan.
Angga (29), salah satu pemain benjang, adalah potret bagaimana tradisi ini diwariskan tanpa buku teks atau ruang kelas. Kedekatannya dengan benjang tumbuh secara alami—dari kebiasaan menonton sejak kecil hingga akhirnya turun ke arena.
“Sejak kecil sudah nonton-nonton benjang. Kalau yang mengajarkan secara khusus sebenarnya enggak ada. Dari sering nonton itu, lama-lama jadi bisa,” tutur Angga sambil tersenyum.
Baginya, benjang bukan hanya soal adu teknik atau kekuatan fisik. Lebih dari itu, benjang adalah ruang ekspresi dan kebanggaan. Di tengah arus hiburan modern yang serba instan, benjang justru menawarkan sesuatu yang lebih hangat: kedekatan dengan warga.
“Kalau menurut saya, benjang bukan sekadar seni. Sekarang juga jadi hiburan. Senang rasanya bisa tampil di tengah warga,” ujarnya.
Perasaan itu berbalas dari para penonton. Asep (41), warga setempat, mengaku benjang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Ia hampir selalu menyempatkan diri hadir setiap kali benjang digelar.
“Sering nonton. Ini tradisi turun-temurun, sekaligus hiburan juga. Biasanya digelar Sabtu atau Minggu,” katanya.
Di mata Asep, benjang bukan hanya tontonan, melainkan pengikat sosial. Di sanalah warga berkumpul, saling menyapa, dan merawat kebersamaan—sesuatu yang kian langka di tengah kehidupan kota yang makin individualistis.
Ia pun menaruh harapan besar pada generasi muda agar tidak menjauh dari akar budayanya sendiri.
“Harapan ke depannya semoga benjang makin populer, karena ini budaya kita,” tambahnya.
Di tengah perubahan zaman, ketika budaya global begitu mudah masuk lewat layar gawai, benjang tetap menemukan ruang hidupnya. Hajatan warga menjadi benteng sekaligus panggung perlawanan terhadap lupa. Selama kendang masih ditabuh dan warga masih berkumpul, benjang akan terus hidup—menjadi penanda identitas, kebersamaan, dan harga diri budaya lokal Bandung Timur.
(Luqman Dwirizal Arifin/MG)
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






