ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM –Gelora Bandung Lautan Api, Minggu Sore, 11 Januari 2026, tak sekadar menjadi stadion. Ia menjelma tungku. Panasnya bukan datang dari cuaca, ini panas yang tak bisa diukur BMKG.
Panas yang lahir dari sejarah, dendam sportif, dan rivalitas paling purba dalam sepak bola Indonesia: Persib Bandung vs Persija Jakarta.
Sejak langkah pertama memasuki tribun, atmosfer sudah menampar dada. Nyanyian Bobotoh bergulung seperti ombak, menggema tanpa jeda. Biru mendominasi, tapi tensi terasa lintas warna. Ini bukan sekadar pertandingan. Ini laga El clasico Indonesia, laga langka yang tak semua bangsa sepak bola punya.
ADVERTISEMENT
Beckham Putra Tegaskan Selebrasi Ikoniknya Bukan Provokasi Usai Persib Taklukkan Persija
Ganindra Bimo, artis papan atas sekaligus Bobotoh tulen, menyaksikan semuanya dari dalam stadion. Matanya berbinar, suaranya bergetar ketika mencoba menjelaskan apa yang baru saja ia alami.
“Ini gila sih. Vibes-nya edan. Panas, tegang, tapi nagih,” ujarnya.
Menurut Pria kekar kelahiran Cimahi itu menilai, laga ini melampaui soal menang atau kalah. Persib boleh unggul, Persija boleh terluka. Tapi yang paling layak dihormati adalah legasi rivalitasnya.
“Terlepas dari hasil, yang harus dihargai itu rivalitasnya. Karena rivalitas kayak gini nggak dimiliki semua elemen sepak bola. Ini rare banget,” kata dia.
Gol cepat yang tercipta di menit awal membuat laga langsung meledak. Tak ada fase membaca permainan. Tak ada basa-basi. Sejak peluit awal, pertandingan berjalan ketat, keras, dan penuh tekanan. Pemain-pemain terbaik negeri ini saling sikut takdir, seolah tahu laga ini akan dikenang lama.
“Begitu gol cepat, suasananya langsung mencekam. Ketat banget. Semua tahu satu detik saja lengah, segalanya bisa berubah,” ujar Ganindra.
Ia menyebut laga ini sebagai potret sepak bola Indonesia yang paling jujur: keras, emosional, tapi penuh gairah.
Namun di balik panasnya tensi, Ganindra menekankan satu hal yang menurutnya paling penting: sportivitas.
“Rivalitas mah kudu aya (Harus ada: red) harus solid. Tapi harus sehat. Seru, mencekam, tapi tetap sportif,” tegasnya.
Baginya, El Clasico Indonesia tak boleh berakhir sebagai cerita permusuhan. Ia harus menjadi warisan. Sebuah panggung besar yang membuktikan bahwa sepak bola nasional bisa punya rivalitas kelas dunia tanpa kehilangan akal sehat.
“Selagi kita masih bisa menikmati momen kayak gini, ya nikmati. Nggak setiap waktu bisa dapat atmosfer seperti ini,” ucapnya.
Sebagai Bobotoh, Ganindra mengaku bangga. Bangga menjadi bagian dari sejarah, menjadi saksi langsung laga yang kelak akan diceritakan ulang di warung kopi, di media sosial, atau kepada generasi berikutnya.
“Bangga jadi Bobotoh. Bangga bisa bilang: gue ada di sana, nonton langsung El Clasico Indonesia yang rasanya kayak final,” katanya.
Ia juga mengingatkan agar Persib tak larut dalam euforia. Liga masih panjang. Konsistensi adalah ujian terberat, terlebih dengan beban kompetisi Asia yang menanti.
“Di sepak bola, split second bisa ubah segalanya. Manchester United aja bisa kebalik dalam hitungan detik. Jadi jangan jumawa,” ujarnya.
Harapannya sederhana tapi bermakna: Persib konsisten di liga dan bisa melangkah jauh di Asia, dan rivalitas ini tetap hidup tanpa kehilangan marwah.
“Kalau El Clasico ini bisa jadi legacy yang tetap sportif dan sehat, itu kemenangan terbesar buat sepak bola Indonesia,” tutup Ganindra.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






