ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – tengah menjamurnya kedai kopi modern di Kota Bandung dengan ragam menu eksperimental yang digemari generasi muda, Waroeng Bako Kopi memilih berjalan di jalur berbeda.
Berlokasi di pinggiran kota, tepatnya di Jalan Pertamina Blok L Nomor 1, Cipadung Wetan, Kecamatan Panyileukan, Waroeng Bako tampil sederhana. Namun di balik kesahajaan ruangnya, tersimpan filosofi kuat tentang konsistensi rasa dan cerita yang tumbuh bersama waktu.
Segelas kopi hideung menjadi penanda utama kedai ini. Melalui racikan tersebut, pemilik Waroeng Bako, Yudi Purnamayang akrab disapa Kang Baduy menunjukkan bahwa kekuatan sebuah usaha tidak selalu lahir dari ambisi besar, melainkan dari ketulusan niat dan kesetiaan pada proses.
ADVERTISEMENT
Menariknya, Kang Baduy mengaku bukan penikmat kopi sejak awal. Dunia perkopian justru ia masuki karena mimpi sang istri yang ingin memiliki kedai kopi sendiri. Dari sanalah perjalanan panjang itu bermula.
“Awalnya saya belajar sendiri. Dari internet, coba-coba alat, sampai akhirnya meracik kopi dari kebun sendiri. Semua berawal dari impian istri,” tuturnya dalam keterangan yang di dapat koran Mandala Minggu (11/1)
Berbeda dengan banyak kedai kopi lain, Waroeng Bako mengontrol proses produksi dari hulu ke hilir. Kang Baduy mengelola kebun kopinya sendiri di Jawa Barat dengan menanam berbagai varietas arabika unggulan, seperti Yellow Katura, Ateng Super, Tipika, hingga Abyssinia.
Proses pascapanen dilakukan dengan penuh ketelitian. Teknik honey process menjadi andalan, menghasilkan karakter rasa dalam varian yellow, red, hingga black. Namun, racikan yang paling dijaga kerahasiaannya adalah Golden Honey, sebuah metode olahan khas yang menjadi identitas Waroeng Bako.
“Golden Honey ini racikan khas kami. Belum banyak yang tahu, dan itu yang jadi pembeda,” ujarnya.
Waroeng Bako pertama kali berdiri pada 2015 di kawasan Manisi, Cibiru. Seiring waktu, kedai ini berpindah ke lokasi saat ini dan justru semakin dikenal luas. Jam operasionalnya pun tergolong tidak biasa. Pada hari kerja, kedai buka hingga pukul 02.00 dini hari, sementara akhir pekan dibuka selama 24 jam penuh.
Dengan harga kopi tubruk yang dibanderol Rp15 ribu, Waroeng Bako menjadi ruang yang inklusif. Tak ada sekat antara pelanggan muda, pekerja malam, hingga orang tua. Semua duduk sejajar, berbagi cerita di atas meja kayu sederhana.
“Orang kalau ingat Waroeng Bako, pasti ingat kopi hideung. Konsistensi itu yang bikin kami bertahan. Kopi hitam bukan lagi soal pahit, tapi soal rasa yang bisa dinikmati siapa saja,” kata Kang Baduy.
Lebih dari sekadar tempat ngopi, Waroeng Bako menjelma ruang pertemuan yang egaliter. Di sanalah percakapan mengalir tanpa jarak, ditemani aroma kopi hitam yang menjadi saksi kisah demi kisah.
Waroeng Bako membuktikan bahwa riset mandiri, kesabaran, dan cinta dapat mengubah biji kopi menjadi pengalaman budaya. Di balik setiap tegukan kopi hitamnya, tersimpan cerita sederhana tentang mimpi, kesetiaan, dan cita rasa yang dijaga sepenuh hati.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






