ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM –Di bawah rindangnya pepohonan Jalan Ir. H. Djuanda (Dago), Kota Bandung, seorang pria berdiri di samping gerobak lumpia basah dengan penampilan yang tak biasa.
Ia mengenakan jas hitam rapi, dasi merah menyala, serta sepatu pantofel hitam mengilap. Sekilas, penampilannya menyerupai anggota Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres).
Namun pria tersebut bukan aparat negara. Ia adalah Agus Hidayat (42), pedagang lumpia basah yang telah lebih dari satu dekade menggantungkan hidup dari gerobak sederhananya di kawasan Dago.
ADVERTISEMENT
Siang itu, Agus tampak cekatan menyiapkan pesanan. Tangannya lincah mengaduk isian lumpia di atas wajan, berpadu dengan suara kendaraan yang melintas.

Aroma gurih lumpia basah perlahan menyebar, menarik perhatian pejalan kaki maupun pengendara yang melintas.
Penampilan nyentrik Agus kerap menjadi daya tarik pertama. Jas hitam ala Paspampres yang dikenakannya membuat banyak orang berhenti, menoleh, bahkan mengabadikan momen dengan ponsel mereka.
“Awalnya banyak yang kaget. Ada yang nanya, ‘Pak, lagi nyamar ya? Ini intel?’,” ujar Agus sambil tersenyum, saat ditemui di lokasi, Jumat (2/1).
Agus mengaku sudah terbiasa dengan berbagai komentar tersebut. Sebelum berjualan lumpia basah, ia sempat bekerja sebagai sopir mobil boks. Namun sejak 2014, ia memutuskan beralih profesi menjadi pedagang kaki lima.
“Dulu saya kerja jadi sopir mobil boks. Sekarang alhamdulillah jadi pedagang lumpia basah,” tuturnya mengenang.
Ide mengenakan busana ala Paspampres bermula dari aktivitas siaran langsung di media sosial TikTok. Agus bersama tiga pedagang lain yang berada di Tangerang, Bogor, dan Cikarang kerap melakukan siaran langsung sambil berjualan. Mereka sepakat tampil berbeda agar menarik perhatian penonton.
Awalnya, jas tersebut hanya dikenakan dua kali dalam sepekan. Namun dalam dua bulan terakhir, Agus mulai rutin mengenakannya. Bahkan, sepekan terakhir hampir setiap hari ia berjualan dengan setelan lengkap.
“Awalnya cuma tantangan bareng teman. Yang penting rapi, bersih, dan niatnya baik,” katanya.
Hasilnya pun terasa signifikan. Jika sebelumnya Agus hanya mampu menjual sekitar 100 porsi lumpia basah per hari, kini penjualannya bisa menembus 200 porsi. Dengan harga Rp12.000 per porsi, dagangannya semakin diminati, terutama oleh pembeli yang penasaran dengan sosok di balik jas hitam tersebut.
“Sebelum pakai jas paling 100 porsi per hari. Setelah pakai pakaian ala Paspampres bisa sampai 200 porsi,” ungkapnya.
Di sela melayani pembeli, Agus kerap diminta berfoto. Ada yang tertawa, ada pula yang masih penasaran apakah ia benar-benar anggota Paspampres.
“Jujur, awalnya malu. Tapi lama-lama senang. Ternyata dari hal sederhana bisa nambah rezeki,” ujarnya.
Salah satu pembeli, Nurul (18), mengaku tertarik membeli lumpia basah Agus setelah melihat videonya di TikTok. Warga Tangerang itu tengah berlibur ke Bandung untuk menghabiskan akhir tahun.
“Saya memang suka lumpia basah. Lagi liburan ke Bandung, cari kuliner di TikTok, terus ketemu videonya Mang Agus. Jualannya pakai jas keren, jadi penasaran. Akhirnya mampir sebelum ke Tahura,” katanya.
Di bawah naungan pohon-pohon Dago, dengan jas rapi dan gerobak sederhana, Agus Hidayat membuktikan bahwa kreativitas bisa tumbuh di mana saja. Dari penampilan yang sempat disalahpahami, ia justru menemukan cara baru untuk bertahan hidup dan menjemput rezeki di tengah persaingan pedagang kaki lima.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






