ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM –Di tengah pesatnya pertumbuhan kedai kopi di Kota Bandung yang kerap mengedepankan citra glamor dan estetika modern, Biji Rakyat Kopi memilih berjalan di jalur berbeda. Kedai ini hadir dengan pendekatan sederhana, menempatkan makna, rasa, dan nilai filosofis sebagai pengalaman utama bagi setiap pengunjung.
Biji Rakyat bukan sekadar ruang untuk menikmati kafein. Dari secangkir kopi yang disajikan, tempat ini berkembang menjadi ruang literasi, diskusi, sekaligus pengingat tentang panjangnya rantai proses dan distribusi kopi—sebuah proses yang kerap luput dari perhatian konsumen.
Pemilik sekaligus barista Biji Rakyat, Rafi Pratista (32), menjelaskan bahwa nama “Biji Rakyat” lahir dari kesadaran akan pentingnya apresiasi terhadap setiap tahapan yang dilalui kopi sebelum sampai ke meja pelanggan.
ADVERTISEMENT
DLH Angkut 95 Meter Kubik Sampah Usai Perayaan Malam Tahun Baru di Kota Bandung
“Setiap cangkir kopi itu hasil kerja banyak orang. Ada petani, ada distribusi, ada proses panjang sebelum akhirnya diseduh dan diminum,” ujar Rafi saat ditemui di Biji Rakyat Kopi.
Menurut Rafi, pesan itulah yang ingin terus dihadirkan kepada setiap pengunjung: bahwa hal-hal yang tampak sederhana dalam kehidupan sehari-hari layak dihargai karena melibatkan banyak tangan dan kerja kolektif.
Nuansa tersebut terasa kuat sejak pengunjung melangkah masuk ke dalam kedai. Deretan buku bacaan, majalah Tempo dengan isu-isu aktual, serta poster bernada reflektif menjadi bagian dari ruang yang membangun kesadaran, tanpa kesan menggurui.
“Konsepnya memberi ruang terlebih dahulu—ruang untuk berbagi informasi. Kami ingin orang sadar bahwa kehidupan sehari-hari dipengaruhi oleh banyak hal besar,” kata Rafi.
Ia menambahkan, nilai “apresiasi” dipilih sebagai identitas Biji Rakyat sebagai respons terhadap budaya konsumerisme yang kerap membuat orang lupa pada proses di balik sebuah produk.
“Barang sampai ke tangan konsumen itu lewat banyak orang. Itu yang sering terlewat, dan itu yang ingin kami ajak untuk dihargai,” tuturnya.
Semangat egaliter juga tercermin dalam pengelolaan ruang. Biji Rakyat meniadakan sekat antara pengunjung. Akses Wi-Fi dibuka tanpa kata sandi, meja dirancang ramah untuk bekerja, dan colokan listrik tersedia di berbagai sudut ruangan.
“Rakyat sudah cukup sulit, jadi enggak perlu ditambah proses yang bikin ribet,” ucap Rafi.
Konsep keterbukaan tersebut menjadikan Biji Rakyat lebih dari sekadar tempat nongkrong. Kedai ini menjelma menjadi ruang bersama yang inklusif, ramah bagi siapa pun—baik yang datang untuk bekerja, berdiskusi, membaca, maupun sekadar menikmati kopi.
Bagi pelanggan lama, Biji Rakyat mungkin masih dikenang sebagai kedai sederhana di Jalan Supratman Nomor 90. Kini, meski telah berpindah lokasi, Rafi—lulusan Geologi Universitas Padjadjaran—berupaya menjaga suasana hangat yang membuat pengunjung merasa seperti berada di ruang tamu rumah sendiri.
Menariknya, Biji Rakyat merupakan buah kolaborasi tiga sahabat sejak bangku SMA. Berbekal tabungan dari proyek lapangan serta dukungan dua rekan dengan latar belakang finansial dan pengalaman di dunia kopi, kedai ini lahir dari mimpi bersama selepas masa kuliah.
Di balik idealisme yang diusung, Biji Rakyat tetap bersinggungan dengan realitas dunia usaha, termasuk tingginya biaya sewa tempat yang terus meningkat. Namun, bagi mereka yang mencari pengalaman ngopi yang jujur, terbuka, dan sarat makna, Biji Rakyat menawarkan lebih dari sekadar minuman.
Di ruang ini, pengunjung diajak berhenti sejenak—membaca, berbincang, dan menghargai setiap teguk kopi sebagai hasil kerja banyak tangan rakyat.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






