ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Awalnya hanya coba-coba. Tangannya gemetar, pikirannya ragu. Namun siapa sangka, keterampilan pijat yang dimiliki Nisya Juliani (25) sejak remaja justru mengubah arah hidupnya. Perempuan asal Cimindi, Cimahi, ini kini dikenal sebagai terapis pijat khusus perempuan yang jasanya laris manis setelah viral di TikTok.
Perempuan yang akrab disapa Ica atau Julia di media sosial tidak pernah merencanakan profesi ini sebagai jalan hidup. Kemampuan memijat ia peroleh secara alami saat masih duduk di bangku kelas 1 SMA, ketika mondok di sebuah pesantren di wilayah Cililin, Kabupaten Bandung Barat.
Kala itu, Ica kerap diminta memijat Bi Nyai, istri pimpinan pesantren. Tanpa teori, tanpa pelatihan khusus.
ADVERTISEMENT
Menilik Calon Lawan Persib Bandung di Babak 16 Besar ACL Two 2025/2026
“Awalnya bingung mulai dari mana, cuma coba-coba. Tapi katanya, kemampuan pijat itu kelihatan dari situ,” kenang Ica.
Sejak saat itu, lingkaran kliennya perlahan meluas. Dari Bi Nyai, ke kerabat, tetangga, bahkan bayi. Sang nenek kemudian membuka cerita bahwa kemampuan tersebut bukan kebetulan—darah pemijat rupanya mengalir dari buyutnya, yang dikenal piawai memijat di kampung.
Namun hidup tak selalu lurus. Usai menamatkan pendidikan pesantren dari SD hingga SMA, Ica memilih merantau ke kawasan Cihampelas pada 2020. Ia sempat bekerja sebagai host live untuk sejumlah brand e-commerce. Dunia digital sempat memberinya harapan baru.
Hingga Juli 2025, semuanya berubah.
Tanpa pekerjaan tetap, tanpa relasi, tanpa modal, Ica kembali ke titik nol. Riwayat asma membuatnya sulit bekerja di pabrik. Di tengah kebingungan itu, satu hal kembali terlintas di benaknya: pijat.
Langkah awalnya sangat sederhana. Ia meminta bantuan tetangga menyebarkan informasi lewat WhatsApp. Pelanggan pertama pun datang, masih dari lingkungan sekitar. Meski tubuhnya sempat pegal karena lama tak memijat, ia bertahan.
Titik balik datang dari layar ponsel.
Dengan pengikut TikTok yang bahkan belum menyentuh angka 200, Ica mengunggah video sederhana. Tak ada konsep rumit. Tak ada ekspektasi. Namun algoritma berkata lain. Video itu viral.
“Pas aku buka TikTok lagi, ternyata rame. Sehari bisa ada sekitar 100 chat masuk,” ujarnya, masih terdengar tak percaya.
Sejak 21 Oktober, Ica memutuskan fokus penuh menjadi terapis pijat panggilan khusus perempuan. Dalam sehari, ia bisa melayani 5 hingga 6 klien. Wilayah kerjanya pun luas—dari Padalarang, Cililin, Cihampelas, hingga Cibiru—ditempuh menggunakan transportasi online.
Dengan tarif Rp100 ribu per jam, belum termasuk ongkos perjalanan, penghasilannya kini menembus sekitar Rp10 juta per bulan.
Namun uang, bagi Ica, bukan tujuan utama.
“Aku lebih banyak ngasih ke orang tua, bantu nenek, sama ditabung. Dari dulu nggak pernah kepikiran beli barang mahal,” katanya pelan.
Di balik angka-angka itu, tantangan tetap ada. Jarak tempuh yang jauh, gang-gang sempit, hingga kondisi fisik klien yang tak selalu bisa diprediksi menjadi risiko sehari-hari. Meski demikian, selama dua bulan terakhir, ia bersyukur belum pernah berhadapan dengan klien bermasalah.
Padahal, mimpi Ica sejak kecil begitu beragam—menjadi koki, bidan, hingga content creator. Keterbatasan ekonomi memaksanya memilih jalan yang ada di depan mata. Ironisnya, justru dari jalan itulah ia menemukan makna kemandirian.
Bagi generasi seusianya, Ica punya pesan sederhana namun tegas.
“Jangan gengsi. Selama halal dan bisa memenuhi kebutuhan hidup, gas terus. Kalau capek, istirahat. Habis itu lanjut lagi.”
Kisah Ica adalah potret Gen Z yang tak menyerah pada keadaan—tentang bagaimana keterampilan sederhana, ketika bertemu keberanian dan momentum digital, bisa menjadi jalan hidup yang tak pernah direncanakan.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






