ADVERTISEMENT
“Kalau menang lomba, hadiahnya selalu buat beli alat gambar. Saya cuma bisa mendukung dan mendoakan aja,” ujar sang ibu, menahan haru.
Ketekunan Arfa kembali membuahkan hasil dalam festival seni di Balai Kota Bandung, di mana ia meraih penghargaan dengan hadiah yang cukup besar. Uang itu, seperti biasa, digunakan untuk memperbarui perlengkapan menggambarnya. Namun ada sisi lain dari Arfa yang membuat ibunya sering tersenyum sekaligus khawatir: perfeksionismenya.
“Kadang waktu lomba cuma satu jam, tapi Arfa belum beres. Dia gak mau berhenti sebelum gambarnya selesai,” kata sang ibu sambil tertawa kecil.
ADVERTISEMENT
Kini, selain menggambar, Arfa mulai tertarik belajar silat. Bulan depan, ia dijadwalkan ikut kejuaraan sebuah langkah baru dari anak yang terus berusaha menembus keterbatasan dengan semangat yang tak pernah padam.
Di akhir perbincangan, sang ibu menyampaikan harapan sederhana, tapi penuh makna.
“Harapan saya, anak-anak difabel seperti Arfa lebih diperhatikan lagi oleh pemerintah. Kegiatan inklusifnya diperbanyak, supaya mereka bisa terus berkembang,” ujarnya pelan, namun tegas.
Arfa mungkin tak banyak bicara, tapi dari setiap lukisan yang ia buat, dunia tahu: ia sedang berbicara. Dalam diamnya, ada suara yang sangat jelas tentang ketekunan, keberanian, dan cinta tanpa batas.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






