ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM –Di balik dunia yang sering bising oleh kata-kata, ada seorang anak yang memilih diam namun berbicara melalui warna dan garis.
Namanya Muhammad Arfa Affandi, seorang anak difabel asal Kota Bandung yang menjadikan gambar sebagai bahasanya sendiri.
Sejak kecil, Arfa jarang bersuara. Kalimat-kalimat sulit keluar dari bibirnya, tetapi tangannya tak pernah berhenti menari di atas kertas.
ADVERTISEMENT
PSBS vs Persib Bandung : Maung Bandung Pecundangi Badai Pasifik, Skor Akhir 0-3
“Karena komunikasinya susah, jadi dia menuangkannya lewat gambar,” tutur sang ibu dengan mata berbinar.
Goresan-goresan sederhana itu perlahan menjadi cermin dari isi hati Arfa. Setiap garis, setiap warna, seolah bercerita tentang dunia yang ia lihat dengan caranya sendiri.
Sang ibu, yang tak pernah lelah mendampingi, mulai mengikutsertakan Arfa dalam berbagai kegiatan seni dan komunitas inklusi di Bandung.
Dari situ, bakatnya mulai dikenal. Lomba demi lomba ia ikuti. Pertama kali, Arfa menorehkan prestasi gemilang di ajang Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tingkat Kota Bandung, dan langsung keluar sebagai juara pertama. Sayangnya, langkahnya ke tingkat provinsi terhenti karena keterlambatan administrasi pendaftaran.
Namun Arfa bukan tipe yang mudah menyerah. Ia terus mencoba, dan pada kesempatan berikutnya kembali naik podium kali ini sebagai juara dua. Di lomba ketiga, Arfa bahkan berhasil lolos hingga tingkat Provinsi Jawa Barat, meski harus mengakui keunggulan peserta asal Cianjur.
Yang menarik, Arfa dulunya hanya suka membuat sketsa hitam-putih. Warna bukan hal yang menarik baginya. Tapi dunia lomba mengajarkan sesuatu: bahwa warna bisa jadi suara yang lebih lantang dari kata-kata.
“Dulu Arfa gak suka mewarnai, sukanya bikin sketsa. Tapi setelah sering ikut lomba, jadi mulai suka mewarnai,” ucap sang ibu, tersenyum mengenang perubahan anaknya.
Yang lebih hebat, semua kemampuan itu Arfa asah secara otodidak. Tak ada guru seni, tak ada kursus mahal. Ia belajar dari TikTok dan YouTube, menyimak setiap teknik yang bisa ia serap. Setiap hadiah dari lomba tak pernah ia gunakan untuk hal lain selain membeli alat-alat gambar baru.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






