Kamis, 26 Februari 2026 10:52

KORANMANDALA.COMDi tengah hiruk-pikuk transaksi jual beli di Pasar Kosambi, , ada satu sudut yang berbeda dari bayangan pasar tradisional pada umumnya.

Di antara kios sayur, daging, dan pakaian, berdiri sebuah ruang modern yang menjadi wadah bagi industri kreatif muda.

Tempat itu bernama The Hallway Space sebuah pasar modern kreatif yang telah hadir selama lima tahun terakhir.

Wisatawan Asing ke Bandung Menurun, Disbudpar Akui Promosi Internasional Masih Lemah

Bagi sebagian orang, pasar identik dengan kebutuhan sehari-hari. Namun, The Hallway Space membuktikan bahwa pasar juga bisa menjadi ruang berekspresi dan berkarya bagi para pelaku ekonomi kreatif.

Asep, selaku Manager Area, menuturkan bahwa The Hallway Space berdiri berkat gagasan dua anak muda, Robby dan Bob, yang juga merupakan pedagang di kawasan Kosambi.

“Hallway digagas dari tahun 2020, idenya dari dua anak muda bernama Robby dan Bob. Salah satunya punya brand Gudang Warrior, dan satunya lagi Wearbob,” ujar Asep saat ditemui pada Sabtu (11/10/2025).

Sejak awal, The Hallway Space dirancang sebagai tempat yang bisa menampung berbagai ide dan kreativitas anak muda Bandung.

Di dalamnya, terdapat beragam tenant, mulai dari kuliner, pakaian, hingga area khusus untuk event.

“Ide apapun bisa diwujudkan di sini. Kalau untuk brand terbagi dua — F&B sama clothing. Tapi kami juga punya ruang meeting, studio podcast, bahkan bisa untuk event musik sampai 300 orang,” jelas Asep.

Dengan konsep yang terbuka dan fleksibel, The Hallway Space menjadi ruang alternatif bagi komunitas muda untuk berkreasi. Mulai dari pameran seni, pertunjukan musik, hingga peluncuran produk lokal sering digelar di tempat ini.

“Andaikan ingin mengadakan event di Hallway itu sangat terbuka ya, sepanjang segmennya anak muda,” tambahnya.

Meski begitu, untuk menjadi tenant di The Hallway Space, para pelaku usaha tetap harus melalui proses kurasi oleh pihak manajemen. Hal ini dilakukan agar kualitas dan karakter tenant tetap terjaga sesuai dengan visi tempat tersebut.

Namun, di balik suasana kreatif yang bebas dan terbuka, The Hallway Space tetap menjunjung nilai-nilai positif. Asep menegaskan, pihaknya melarang keras keberadaan alkohol di area tersebut.

“Di tahun pertama banyak orang yang beli alkohol lalu minum di sini. Akhirnya kami tegas melarang. Jadi Hallway itu tempat yang sehat,” tuturnya.

Kini, setelah lima tahun berjalan, The Hallway Space bukan sekadar tempat nongkrong atau berjualan, tapi juga simbol kebangkitan kreativitas anak muda Bandung. Dari ruang sempit di dalam pasar, lahirlah ide-ide besar yang terus berkembang dan menghidupkan kembali semangat industri kreatif lokal.

Koranmandala.com

Exit mobile version