ADVERTISEMENT
Bagi Deni, momen itu seperti membalik lembaran hidupnya. Dunia yang selama ini hanya diisi suara gergaji dan palu kini berganti dengan kamera, sutradara, dan naskah dialog.
“Saya gak punya dasar akting, karena dari kecil saya bantu bapak ngukir kayu,” katanya merendah.
Ia masih ingat betul adegan pertamanya di lokasi syuting. Dialognya sederhana hanya tiga kata: “Tasik, tasik, tasik.” Tapi jantungnya berdegup seolah sedang tampil di depan ribuan penonton.
ADVERTISEMENT
“Groginya luar biasa. Apalagi kamera dekat banget dan banyak orang nonton di lokasi,” ujarnya sambil tertawa.
Menariknya, karakter Usep yang ia perankan ternyata punya kemiripan dengan kepribadiannya sendiri. Sederhana, jujur, dan apa adanya. “Ada kesamaan dengan saya pribadi. Tapi justru dari situ saya banyak belajar,” katanya.
Kini, Deni tak hanya dikenal sebagai pengrajin kayu, tapi juga bagian dari keluarga besar Preman Pensiun — salah satu serial yang paling dicintai pemirsa tanah air. Meski popularitas mulai menghampiri, ia tetap berpegang pada prinsip hidup sederhana.
“Harapan saya ke depan semoga bisa lebih baik lagi. Tapi yang paling penting, tetap rendah hati. Semakin tinggi kita, semakin harus menunduk,” ujarnya dengan nada bijak.
Ketika tidak sedang berada di depan kamera, Deni kerap kembali ke bengkel kayunya di Sumedang. Di sana, di antara serpihan limbah dan bau khas kayu, ia menemukan ketenangan. Tempat di mana perjalanan panjangnya menuju dunia seni peran dulu bermula.
“Yang penting percaya diri,” katanya menutup perbincangan. “Banyak yang gak pede di awal, padahal kuncinya itu yakin dan berani. Saya buktinya.”
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






