KoranMandala.com – Pertemuan romantis di sebuah kantor penerbit musik di Covent Garden, London, pada awal 1980-an melahirkan salah satu lagu paling ikonik dalam sejarah musik pop Inggris, “Young at Heart” yang dibawakan oleh The Bluebells.
Lagu ini pertama kali menembus posisi ke-8 tangga lagu Inggris pada 1984, sebelum kembali melejit dan bertahan selama empat minggu di puncak chart pada 1993. Di balik popularitasnya, lagu ini lahir dari kisah cinta antara Bob Heatlie dari The Bluebells dan Siobhan Fahey dari Bananarama.
Heatlie pernah mengaku langsung jatuh hati saat melihat Fahey di kantor penerbit. Namun, Fahey membantah versi itu. “Cerita Bob di majalah Smash Hits murni fantasi dan membuat saya terdengar seperti penguntit,” ujarnya sambil menjelaskan bahwa pertemuan mereka terjadi karena kedua grup memang berbagi kantor yang sama.
Hubungan keduanya berlanjut, hingga Heatlie pindah dari Glasgow ke London dan tinggal bersama anggota Bananarama. Ia menggambarkan kehidupan mereka saat itu seperti film Help! milik The Beatles.
Inspirasi lagu “Young at Heart” muncul ketika pasangan ini menonton film Frank Sinatra dengan judul sama. Obrolan tentang latar belakang keluarga mereka kemudian dituangkan ke dalam lirik.
“Siobhan berasal dari Irlandia, ayahnya tentara Inggris. Ia sering berpindah sekolah. Dari situlah kami menulis tentang bagaimana orang tua generasi mereka menikah muda,” kenang Heatlie.
Menariknya, lagu ini pertama kali direkam oleh Bananarama dengan gaya northern soul. Fahey menuturkan bahwa lirik mencerminkan kepribadian berbeda di antara mereka.
“Kata-kata saya berbau kepedihan, kata-kata Bob lebih penuh cinta. Dua pengalaman yang sangat berbeda dalam masa pertumbuhan,” katanya.
Namun, bos label rekaman Roger Ames menyarankan The Bluebells untuk merekam ulang. Versi mereka, dengan tambahan biola dari musisi sesi Bobby Valentino, justru menjadi hits besar.
Kesuksesan lagu ini tidak lepas dari kontroversi. Heatlie mengaku pernah mendapat kabar bahwa Paus Vatikan mengeluhkan liriknya karena dianggap mempromosikan perceraian.
“Saya pikir itu lucu, meski ibu saya yang orang Italia tidak senang,” ujarnya.
