ADVERTISEMENT
KoranMandala.com –Pembuat film sekaligus seniman asal Inggris, Andrew Kötting, kembali menghadirkan karya dokumenter yang memadukan seni, kesadaran, dan memori. Dalam film terbarunya ini, ia menjadikan putrinya, Eden Kötting, sebagai subjek sekaligus kolaborator utama.
Eden, yang lahir pada 1988 dengan kondisi genetik Joubert syndrome, tampil mengenakan gaun pinafore bergaris biru yang sekilas mengingatkan pada karakter Alice in Wonderland. Dalam salah satu adegan, ia bersama sekelompok orang dewasa berkebutuhan khusus mengikuti simulasi di lantai pabrik. Mereka berpura-pura memproduksi “blok memori” dengan peralatan mesin dan printer 3D.
Blok logam berongga itu digambarkan sebagai elemen penyusun memori, seolah-olah dapat merangsang kesadaran dan mengirim para peserta kembali ke masa lalu untuk menghidupkan kembali kenangan bahagia. Visualisasi ini diperkuat dengan animasi 3D berupa mur dan baut yang melayang di layar.
ADVERTISEMENT
Siap Kantongi Point Penuh Dari Jepara, Persib Bandung Bawa 22 Pemain
Dalam sesi interaktif, Kötting bertanya kepada peserta tentang destinasi perjalanan impian mereka. Jawabannya pun beragam: seorang wanita menyebut Praha, Eden memilih Prancis karena kenangan bahagia di sana, sementara seorang pria lain menyebut Locarno di Swiss, terinspirasi dari kecintaannya pada cerita hantu Von Kleist berjudul The Beggar Woman of Locarno.
Film ini juga merekam momen Eden berjalan menggunakan walking frame di hamparan lanskap luas, baik sendirian maupun bersama teman-temannya yang mengenakan kostum fancy dress.
Pendekatan multilapis yang diusung Kötting dipandang sebagai upaya menolak tata bahasa konvensional dalam melihat isu klinis dan disabilitas. Sebaliknya, ia berusaha menyajikan cara pandang dunia sebagaimana Eden melihat dan merasakannya.
Para kritikus menilai, meski film ini tidak sepenuhnya menawarkan jawaban mendalam tentang isi pikiran Eden, namun justru menampilkan harmoni yang tenang. Orisinalitas karya Kötting dinilai berharga karena memberi perspektif baru tentang disabilitas, kesadaran, dan memori manusia melalui bahasa sinematik yang unik.(Lulu/mg)
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






