“Kenapa kamu tidak ikut melukis?” tanya seniman itu sambil tersenyum.
Rian terkejut. “Saya tidak bisa melukis,” jawabnya pelan.
“Setiap orang bisa melukis, asal mau mencoba,” kata seniman itu. Dengan sedikit ragu, Rian pun mengambil kuas dan mulai mencoret-coret kanvas.
ADVERTISEMENT
Saat ia menciptakan goresan demi goresan, perasaan lega mengalir dalam dirinya. Dia merasa seolah semua beban yang ia pikul selama ini terangkat. Melalui lukisannya, Rian bisa mengekspresikan semua perasaannya, cita-cita, kerinduan, dan harapan yang terpendam.
Hari-hari berikutnya, Rian menyempatkan diri untuk kembali ke taman. Dia belajar dari seniman tua itu dan menemukan kembali hasratnya yang hilang. Di tengah kesulitan hidup, melukis menjadi pelarian yang membuatnya merasa hidup.
Suatu hari, seniman itu berkata, “Kamu punya bakat, Rian. Kenapa tidak mencoba untuk ikut pameran seni?”
Rian tertegun. “Tapi saya hanya seorang buruh. Siapa yang akan peduli dengan lukisan saya?”
“Orang-orang akan peduli jika kamu menunjukkan hati dalam karyamu,” jawab seniman itu.
Dengan dorongan dari seniman, Rian memberanikan diri untuk mendaftar di pameran. Dia bekerja keras melukis setiap malam setelah pulang dari pabrik. Ketika hari pameran tiba, Rian merasa gugup. Namun, saat melihat lukisannya dipajang di depan banyak orang, jantungnya berdebar dengan penuh harapan.
KORAN MANDALA – Ratusan massa gabungan mahasiswa, komunitas, dan warga bergerak menuju Simpang Lima, Kota…
KORAN MANDALA –Kursi Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Purwakarta segera memasuki babak pergantian kepemimpinan. Anne…
KORAN MANDALA –Dugaan kekerasan seksual terhadap anak berusia 3 tahun di Kota Bandung menjadi sorotan…
KORAN MANDALA – Mengayuh becak selama berjam-jam bukan pekerjaan ringan, terlebih bagi pekerja yang usianya tak…
KORAN MANDALA – Kepedulian terhadap maraknya perundungan terhadap anak mendorong Kang Hertigol (52) seorang petugas…
KORAN MANDALA –Target Zero New Stunting atau nol kasus baru stunting di Kota Bandung menghadapi…