ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM –Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek yang jatuh pada 17 Februari 2026, deretan toko penjual pernak-pernik Imlek di Jalan Cibadak, Kota Bandung, mulai dipenuhi warna merah khas Imlek. Beragam hiasan seperti lampion, gantungan ornamen, hingga dekorasi bertema shio tampak menghiasi etalase toko.
Namun, kondisi tersebut tidak sepenuhnya sejalan dengan tingkat kunjungan pembeli. Jika dibandingkan dengan tahun lalu, jumlah konsumen yang datang langsung ke toko-toko pernak-pernik Imlek di kawasan tersebut terlihat mengalami penurunan.
Tia Agustina (25), staf toko Bintang Lestari, mengungkapkan bahwa penjualan pernak-pernik Imlek tahun ini menurun dibandingkan tahun sebelumnya.
ADVERTISEMENT
Alarm Darurat Bandung: 10 Ribu Siswa Alami Gangguan Mental Sepanjang 2025
“Kalau tahun ini memang terasa agak turun. Tahun kemarin masih lumayan ramai, sekarang pembelinya berkurang,” ujar Tia saat ditemui di tokonya, Senin (9/2/2026).
Tia mengaku tidak mengetahui secara pasti besaran penurunan omzet karena pengelolaan keuangan berada di tangan pemilik toko. Meski demikian, ia menyebut penurunan penjualan cukup terasa.
“Untuk angka pastinya saya tidak tahu karena yang mengatur keuangan pemilik toko. Tapi kelihatannya memang turun. Sekarang banyak yang memilih belanja secara online,” katanya.
Meski penjualan secara umum menurun, Tia menyebut beberapa produk masih cukup diminati, terutama hiasan berukuran kecil.

“Yang paling banyak dicari itu lampion kecil dan gantungan-gantungan untuk pohon atau pintu. Ada juga banner,” ujarnya.
Terkait harga, Tia mengatakan pernak-pernik Imlek yang dijual di tokonya cukup variatif dan relatif terjangkau.
“Lampion kecil mulai dari Rp3.500 per buah. Kalau yang paling mahal bisa sampai sekitar Rp1 juta, biasanya lampion besar atau yang sudah dilengkapi lampu,” ungkapnya.
Hal serupa juga dirasakan oleh staf toko Bintang Makmur, Anisa (24). Ia menyebut kondisi sepi terjadi hampir di seluruh toko pernak-pernik Imlek di kawasan Jalan Cibadak.
“Kalau dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, sekarang memang lebih sepi. Bukan cuma toko ini, hampir semua juga mengeluhkan hal yang sama,” kata Anisa.
Menurut perkiraannya, penurunan omzet penjualan tahun ini bisa mencapai sekitar 30 persen dibandingkan tahun lalu.
“Kalau perkiraan saya, bisa turun sekitar 30 persen dari tahun kemarin,” ujarnya.
Anisa menambahkan, pembelian dalam jumlah besar justru lebih banyak dilakukan oleh pihak perkantoran dan pusat perbelanjaan, sementara pembeli perorangan relatif sedikit.
“Biasanya yang beli banyak itu mal atau kantor. Kalau pembeli rumahan sekarang jarang,” katanya.
Terkait tren hiasan Imlek tahun ini, Anisa menyebut ornamen bertema shio kuda tetap dicari, meski sebagian besar konsumen lebih memilih hiasan bernuansa netral.
“Ada yang cari hiasan shio kuda, tapi kebanyakan pilih yang netral supaya bisa dipakai tiap tahun. Kalau shio kan harus nunggu 12 tahun lagi,” jelasnya.
Untuk harga, Anisa menyebut pernak-pernik Imlek di tokonya dijual dengan rentang harga yang cukup luas.
“Yang paling murah gantungan kecil untuk pohon, Rp2.000 per buah. Lampion kisaran Rp20.000 sampai Rp100.000. Kalau yang harganya jutaan biasanya pohon sakura,” ungkapnya.
Baik Tia maupun Anisa berharap kondisi ekonomi ke depan dapat membaik sehingga penjualan pernak-pernik Imlek kembali meningkat.
“Harapannya ke depan bisa lebih ramai dan banyak yang belanja langsung ke toko, karena kualitas barang bisa dilihat secara langsung,” ujar Tia.
“Mudah-mudahan ekonomi makin membaik dan penghasilan bisa lebih baik dari sebelumnya,” pungkas Anisa.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






