ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM –UMKM asal Kota Bandung, Kafani, berhasil menarik perhatian publik nasional melalui inovasi produk kain kafan yang dikemas secara modern dan edukatif.
Brand yang resmi berdiri pada Maret 2024 ini mengusung konsep dakwah melalui jalur bisnis, dengan misi mengedukasi masyarakat tentang tata cara pengurusan jenazah sesuai syariat Islam.
Pendiri Kafani, Yoka Brahma Putra, mengatakan kehadiran Kafani berangkat dari kegelisahannya melihat masih minimnya pemahaman umat Muslim mengenai pengurusan jenazah. Menurutnya, proses tersebut kerap dianggap tabu dan menakutkan, padahal memiliki nilai ibadah yang sangat besar dalam ajaran Islam.
ADVERTISEMENT
Jadwal Lengkap SIM Keliling Kota Bandung Selasa 13 Januari 2026
“Melalui Kafani, kami ingin berdagang sambil berdakwah. Mengurus jenazah adalah ibadah besar, namun masih sering dianggap tabu. Padahal, ini bagian penting dari ajaran Islam,” ujar Yoka, dikutip dari keterangan resmi yang diterima Koran Mandala, Selasa (13/1).
Selain memasarkan produk, Kafani juga aktif menyelenggarakan pelatihan pengurusan jenazah di masjid-masjid dan berbagai komunitas. Kegiatan edukasi tersebut bahkan telah dilakukan sejak sebelum Kafani dikenal luas melalui media sosial.
“Edukasi adalah kunci. Banyak orang belum mengetahui cara mengurus jenazah, bahkan untuk anggota keluarga sendiri. Di situlah kami melihat ruang dakwah yang besar,” jelasnya.
Popularitas Kafani meningkat signifikan setelah salah satu siaran langsung di platform TikTok pada Oktober 2024 menjadi viral. Dalam siaran tersebut, Yoka menggabungkan unsur edukasi dengan pendekatan visual yang ringan dan menarik, sehingga mampu menjaring ribuan penonton.
“Awalnya hanya menggunakan manekin sebagai media edukasi, lalu kami tampilkan orang sungguhan. Responsnya luar biasa dan dari situlah Kafani mulai dikenal luas,” tambahnya.
Saat ini, produk Kafani telah dipasarkan melalui berbagai platform marketplace seperti Shopee dan Tokopedia. Selain itu, Kafani juga aktif memanfaatkan media sosial seperti Instagram dan TikTok sebagai sarana dakwah sekaligus pemasaran digital.
“Kami ingin masyarakat memandang kain kafan bukan sekadar kebutuhan di akhir hayat, tetapi sebagai bagian dari persiapan ibadah. Harapannya, stigma tentang kematian bisa berubah menjadi momentum refleksi dan kesadaran spiritual,” pungkas Yoka.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






