ADVERTISEMENT

Belajar Musik Pentatonik dan Tanpa Paksaan

Dalam semi talkshow yang dipandu Annisa NF dari Koran Mandala, kedua narasumber berbincang dengan peserta yang duduk lesehan di atas alas daun pisang, log kayu, dan bangku. Perbincangan berlangsung santai tanpa panggung, sementara anak-anak tetap leluasa bergerak di sekitar lingkaran.

Kenny menyampaikan bahwa pendidikan yang tidak menghadirkan musik dalam keseharian akan menggerus pikiran dan tenaga anak.

Dalam sebuah pernyataan menjelang acara, Kenny menjelaskan bahwa sekolah-sekolah Waldorf, baik di TK maupun SD, banyak menggunakan musik pentatonik, umumnya hingga kelas 3. Berbeda dengan musik diatonik yang terdiri dari tujuh nada, musik pentatonik hanya terdiri dari lima nada, tanpa nada C dan F.

ADVERTISEMENT

“Musik itulah yang paling sesuai untuk usia tersebut. Dia tidak membuat anak keluar dari dreamy state-nya, karena di usia tersebut anak-anak masih dalam kondisi dreamy,” ujarnya.

Di TK, lanjut Kenny, musik pentatonik digunakan untuk mengajak anak melakukan sesuatu. Ajakan itu tidak disampaikan lewat instruksi, tetapi lewat nyanyian guru, sehingga musik sampai ke hati dan anak bergerak dengan sendirinya. Hal serupa berlaku di SD, misalnya saat anak-anak bermain suling recorder. Selain pentatonik, pendidikan Waldorf juga mengenal mood of the fifth atau suasana kuint, yakni melodi yang berputar di sekitar nada A dan terasa mengambang tanpa awal dan akhir yang tegas.

Sementara itu, Airik bercerita bahwa kecintaannya pada anak-anak salah satunya tumbuh dari musik. Ia membangun fondasi bermusik anaknya melalui musik atonal, yaitu musik yang tidak berpusat pada tonika atau tangga nada tertentu.

“Saya tertarik mengajarkan musik-musik atonal ke anak-anak supaya imajinasinya lebih liar, bereksplorasi lebih liar, berkreativitas lebih liar,” ujarnya. Menurutnya, tanpa terikat nada, imajinasi anak berkembang lebih luas, dan hal itu turut membentuk karakter.

Airik juga menambahkan bahwa orang tua sebaiknya tidak memaksa saat mendampingi anak belajar musik.

Di sela perbincangan, Airik mengajak seluruh peserta mencoba memainkan gamelan Bali. Menurutnya, sebagai orang Sunda, orang Jawa Barat, sekaligus orang Indonesia, memainkan gamelan Bali memberi pengalaman rasa yang berbeda. “Rasa keindonesiaannya, nasionalismenya lebih kena,” katanya.

Kolaborasi di panggung

Di tengah talkshow, Airik tampil memainkan bass, diiringi putranya, Kahlil, pada perkusi serta Vio dan Dinar yang memainkan instrumen gamelan bali. Perpaduan bunyi bass dengan denting gamelan menghadirkan warna musik yang tidak biasa bagi telinga anak-anak.

Seluruh pengunjung pun turut bermain musik dengan bahan natural berupa batu dan kayu yang telah disediakan panitia, sehingga halaman dipenuhi ketukan yang saling bersahutan.

Selepas itu, Airik kemudian berkolaborasi dengan para guru Jagad Alit dalam satu penampilan bersama yang melibatkan alat musik yang biasa digunakan dalam pendidikan waldorf seperti lyre, suling pentatonik, serta glockenspiel.

Sepanjang acara yang juga didukung tim Karang Taruna 15 Sindangsari, Baleendah ini, pengunjung juga bisa menikmati bazar dari Kopi Goes, Pamolahan Sangkuriang, dan Amhavv Bake.

Kesan yang tertinggal

Usai acara, Airik mengaku terkesan dengan cara musik tradisi berkolaborasi dengan alat musik seperti glokenspiel dan suling. Menurutnya, ketukan dan ritme yang konsisten bisa membantu hidup anak lebih teratur. “Keren, luar biasa. Dengan merasakan ketukan, anak bisa lebih mengalir dan harmonis,” ujarnya.

Jagad Music Waldorf - Dekorasi Natural Dalam Pendekatan Pendidikan Waldorf
Jagad Music Waldorf – Dekorasi Natural Dalam Pendekatan Pendidikan Waldorf

Yusman, yang memainkan rebab pada helatan ini,  berharap acara serupa bisa digelar lebih luas, agar lebih banyak orang mengenal dan merasakan langsung pengalaman bermusik dengan nada pentatonik.

Kesan mendalam juga dirasakan Joy, Dio, dan Shinta, perwakilan mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Purwakarta. Mereka mengaku paling merinding saat circle time, ketika orang dewasa dan anak-anak berkumpul dalam satu lingkaran, lalu bergerak dan bernyanyi bersama. “Tidak ada instruksi yang keras. Instruksinya lembut, lalu kami bersama-sama mengikuti cerita dengan gerak dan nyanyian,” tutur mereka.

Mereka juga takjub saat peserta memukul batu, kayu, dan bahan alam lainnya bersama-sama, diiringi gamelan Bali serta permainan Airik dan Kahlil. “Semuanya membentuk harmoni yang indah. Itu membuat kami takjub begitu dalam,” kata mereka.

Menjelang siang, halaman yang sejak pagi riuh perlahan hening. Acara ditutup dengan dongeng ala Waldorf yang dibawakan Kenny, lalu lagu perpisahan “Jika ada datang, pasti ada pulang, sampai jumpa semuanya” yang dinyanyikan bersama para guru sebagai penanda ucapan perpisahan dan terima kasih atas kehangatan yang dibawa ke acara Jagad Music Waldorf Volume 1.

Tiga jam di halaman Jagad Alit pagi itu menjadi pengingat sederhana bahwa musik bagi anak tidak selalu soal panggung dan nada yang sempurna. Ia bisa hadir dari sebuah lingkaran kecil, dari batu dan kayu yang dipukul bersama, atau dari nyanyian lembut seorang guru. Seperti lagu penutupnya, setiap yang datang pasti pulang, kali ini dengan membawa sedikit harmoni ke rumah masing-masing. (FMA)

Listen to this article

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

1 2

Penulis di Koran Mandala dengan kajian Pernak-pernik Bandung, Pendidikan, Geospasial, dan Sepakbola.

ADVERTISEMENT