KORAN MANDALA –Pondok Pesantren Sukamiskin di Jalan A.H. Nasution Nomor 128, Kota Bandung, menyimpan perjalanan panjang pendidikan Islam di Tatar Sunda khususnya Kota Bandung.
Berdiri sejak 1881, pesantren yang kini berusia 145 tahun itu tetap mempertahankan tradisi keilmuan dan pola pendidikan yang diwariskan lintas generasi.
Di bawah kepemimpinan KH Abdul Aziz Haidar, Pondok Pesantren Sukamiskin terus menjalankan pendidikan keagamaan sekaligus pendidikan formal.
ADVERTISEMENT
Pembakaran Water Barier dan Vandalisme Tugu Simpang Lima Warnai Aksi di Bandung
Momentum Hari Santri Nasional yang diperingati setiap 22 Oktober menjadi pengingat pentingnya menjaga keberlanjutan pesantren sebagai tempat membentuk generasi berilmu dan berakhlak.
KH Abdul Aziz Haidar mengatakan, mempertahankan pesantren bukan sekadar menjaga bangunan bersejarah, melainkan juga merawat ikatan dengan keluarga pendiri, para alumni, dan masyarakat yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan pesantren.
“Bagi pondok pesantren itu monumen. Pertahankan. Betapa sayangnya kalau alumni dengar Sukamiskin bubar,” tuturnya saat ditemui di lingkungan pesantren, Selasa, 20 Oktober 2026.
Pesantren Sukamiskin didirikan oleh KH Raden Muhammad bin KH Raden Alqo pada 1881. Pada masa awal berdirinya, pengajaran tarekat menjadi salah satu fokus utama. Nama Sukamiskin sendiri berawal dari istilah Arab Suq Misk, yang berarti pasar minyak wangi.
Nama tersebut menggambarkan pesantren sebagai tempat orang datang menimba ilmu agama, kemudian menyebarkan manfaat ilmu itu ke daerah asal masing-masing.
Seiring perkembangannya, pesantren membangun sistem pendidikan yang lebih terstruktur. Pembelajaran dilaksanakan secara klasikal dengan jenjang dan kurikulum yang tersusun.
Menurut KH Abdul Aziz Haidar, sistem tersebut masih diterapkan hingga kini, termasuk tradisi pengajaran dan amalan keagamaan yang menjadi ciri khas pesantren.
Masa pendidikan pesantren disusun dalam delapan tingkatan, mulai dari kelas 0A, 0B, kemudian kelas satu hingga kelas enam. Melalui sistem tersebut, santri menjalani proses pembelajaran secara bertahap, baik dalam pendalaman ilmu agama maupun pembentukan kedisiplinan.
Aktivitas santri dimulai sekitar pukul 04.00 WIB dengan salat Subuh berjamaah. Kegiatan dilanjutkan dengan membaca Al-Qur’an, wirid, dan doa-doa yang diwariskan dari generasi sebelumnya. Sekitar pukul 05.30 WIB, santri mengikuti pengajian sesuai kelas masing-masing sebelum bersiap menjalani pendidikan formal.
Setelah kegiatan sekolah, aktivitas pesantren berlanjut pada siang hingga malam hari. Santri kembali mengikuti pengajian, melaksanakan salat berjamaah, dan mendalami kitab hingga sekitar pukul 23.00 WIB.
“Dari Magrib ngaji sampai jam 11.00 malam,” kata KH Abdul Aziz Haidar, menggambarkan rutinitas pendidikan yang dijalani para santri setiap hari.
Saat ini, sekitar 250 santri tinggal dan menempuh pendidikan di pesantren tersebut. Mereka berasal dari sejumlah daerah, antara lain Karawang, Tasikmalaya, Sumedang, hingga Papua. Selain santri mukim, terdapat pula peserta didik yang mengikuti pendidikan formal di lingkungan pesantren.
Menurut KH Abdul Aziz Haidar, keberhasilan pesantren tidak semata-mata diukur dari banyaknya santri. Baginya, kualitas pendidikan, keberlanjutan tradisi, dan manfaat yang dibawa para santri setelah kembali ke masyarakat jauh lebih penting.
Di tengah perkembangan pendidikan modern, Pondok Pesantren Sukamiskin tetap memadukan pendidikan pesantren dengan pendidikan formal melalui jenjang Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah. Perpaduan tersebut memungkinkan santri mempelajari ilmu agama sekaligus mengikuti pendidikan formal.
Bagi KH Abdul Aziz Haidar, menjaga keberlangsungan pesantren juga berarti memastikan lembaga tersebut tetap memberikan manfaat bagi santri, alumni, dan masyarakat.
Ia berharap para santri tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga memiliki kesediaan untuk mengabdikan diri bagi agama dan lingkungan sekitarnya.
“Harus jadilah santri mah. Harus berani mewakafkan diri ke agama,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan, setiap Subuh, para santri di Sukamiskin turut mendoakan pemerintah dan Kota Bandung agar terhindar dari bencana serta senantiasa berada dalam keadaan aman.
Di lingkungan pesantren, peringatan Hari Santri Nasional direncanakan diisi dengan kegiatan internal, antara lain doa bersama, tahlilan, serta perlombaan lagu-lagu santri.
Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi para santri untuk mempererat kebersamaan sekaligus memaknai kembali peran mereka dalam kehidupan bermasyarakat.
KORAN MANDALA – Persib Bandung mulai mendapat angin segar terkait kondisi gelandang asingnya, Gakuto Notsuda. Setelah…
KORAN MANDALA – Penanganan kasus kekerasan, perusakan bus, dan pencurian yang menimpa rombongan Persib U-18 di…
KORAN MANDALA – Aksi unjuk rasa memperingati dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil…
KORAN MANDALA – Dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka…
KORAN MANDALA – Aksi premanisme dan pemerasan yang sempat meresahkan pengguna jalan serta viral di…
KORAN MANDALA – Ratusan massa dari berbagai elemen mahasiswa, komunitas, dan warga menggelar aksi evaluasi…