ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Kasus penyiraman air keras kembali menjadi perhatian publik setelah menimpa aktivis Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus. Ia disiram air keras oleh orang tak dikenal di Jakarta pada Kamis (12/3/2026) malam.
Berdasarkan keterangan KontraS, Andrie mengalami luka bakar serius pada sejumlah bagian tubuh dengan tingkat keparahan sekitar 24 persen akibat insiden tersebut. Peristiwa ini tidak hanya memunculkan keprihatinan terhadap keamanan aktivis, tetapi juga mengingatkan kembali betapa berbahayanya paparan zat kimia korosif yang kerap disebut sebagai air keras.
Apa Itu Air Keras?
Istilah air keras umumnya digunakan untuk menyebut cairan kimia yang memiliki daya korosif tinggi. Zat ini dapat berupa asam kuat maupun basa kuat yang mampu merusak jaringan tubuh.
ADVERTISEMENT
Antisipasi Kepadatan, Polres Garut Terapkan One Way Bandung–Tasikmalaya
Berdasarkan informasi dari National Library of Medicine (NLM), beberapa bahan kimia yang termasuk kategori air keras antara lain:
Asam kuat:
- Asam sulfat
- Asam nitrat
- Asam fluorida
- Asam klorida
- Asam asetat
- Asam format
- Asam fosfat
- Asam fenolat
- Asam kloroasetat
Basa kuat:
- Natrium hidroksida
- Kalium hidroksida
- Kalsium hidroksida
Paparan zat-zat tersebut dapat menyebabkan luka bakar kimia (chemical burn) yang merusak sel dan jaringan tubuh. Kerusakan yang ditimbulkan bahkan bisa menembus lebih dalam dari lapisan permukaan kulit.
Dampak Air Keras pada Tubuh
Luka bakar akibat bahan kimia umumnya lebih berbahaya dibanding luka bakar karena panas. Hal ini karena zat kimia korosif dapat terus bereaksi pada jaringan tubuh selama masih menempel di kulit.
Pada kulit, gejala awal biasanya berupa sensasi panas, perih, kemerahan, dan perubahan warna kulit. Jika paparan berlanjut, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi kulit melepuh, membengkak, pecah-pecah, hingga mengelupas.
Paparan pada mata dapat menyebabkan rasa terbakar, pembengkakan kelopak mata, dan mata berair, yang dalam kondisi berat bisa berujung pada gangguan penglihatan hingga kebutaan.
Sementara jika zat tersebut terhirup atau tertelan, dampaknya bisa lebih serius, seperti nyeri dada, sesak napas, muntah darah, hingga kerusakan pada organ dalam seperti lambung, kerongkongan, maupun kornea mata.
Langkah Pertolongan Pertama
Dalam kasus paparan air keras, pertolongan pertama yang cepat dan tepat sangat penting untuk meminimalkan kerusakan jaringan sebelum korban mendapatkan perawatan medis.
Dokter umum dr. Candra Hortalanus menjelaskan bahwa langkah paling penting adalah membilas area tubuh yang terkena dengan air mengalir sebanyak mungkin untuk menghilangkan sisa bahan kimia yang menempel.
Melalui akun Instagramnya, @doccandraho, ia membagikan beberapa langkah pertolongan pertama yang dapat dilakukan:
Segera siram bagian tubuh yang terkena dengan air mengalir selama minimal 20–30 menit
Lepaskan pakaian atau benda yang terkena bahan kimia agar cairan tidak terus menempel pada kulit
Tutup luka dengan kain bersih atau kasa
Segera bawa korban ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis lanjutan
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mencoba menetralkan bahan kimia dengan cairan lain.
“Yang sering salah adalah banyak orang mencoba menetralkan dengan bahan lain seperti soda kue atau cairan tertentu. Hal itu tidak disarankan karena reaksi kimia justru bisa menghasilkan panas dan membuat luka semakin dalam,” ujarnya, dikutip Minggu (15/3/2026).
Kasus penyiraman air keras yang kembali terjadi menjadi pengingat bahwa selain penegakan hukum terhadap pelaku kekerasan, edukasi mengenai bahaya bahan kimia dan penanganan darurat juga penting diketahui masyarakat untuk mengurangi risiko dampak yang lebih fatal.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






