ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM –Tuberkulosis (TBC) masih menjadi persoalan kesehatan serius di Kota Bandung. Meski penyakit ini telah lama dikenal dan pengobatannya tersedia gratis di fasilitas kesehatan pemerintah, angka kasusnya tetap tinggi. Para ahli menilai hambatan terbesar bukan hanya medis, tetapi juga sosial dan perilaku masyarakat.
Ketua KOPI TB Kota Cimahi, dr. Ade Yudisman, Sp.PD mengatakan persepsi masyarakat yang menganggap batuk sebagai keluhan biasa menjadi salah satu faktor keterlambatan diagnosis TBC.
“Di masyarakat kita, batuk itu dianggap hal normal, karena cuaca dingin, alergi, atau flu biasa. Padahal seharusnya dibalik, batuk lama itu harus dicurigai bisa jadi karena TBC, Maka dari itu berobatnya terlambat,” ujarnya, Selasa (24/2/2026).
ADVERTISEMENT
Polsek Kadungora Tangkap Dua Pengedar Ribuan Obat Keras Ilegal
Menurutnya, keterlambatan tersebut membuat penyakit berkembang lebih berat dan meningkatkan risiko penularan di keluarga maupun lingkungan kerja. Ia menyebut TBC sebagai “bom waktu” karena dapat menyebar tanpa disadari ketika penderita tidak segera ditangani.
Selain persepsi gejala, stigma sosial terhadap TBC dinilai masih sangat kuat. Banyak pasien menyembunyikan penyakitnya karena takut dikucilkan atau kehilangan pekerjaan.
“Kalau orang bilang saya Covid, dulu malah bangga. Tapi kalau bilang saya TBC, malu. Padahal TBC itu penyakit menular yang bisa disembuhkan. Stigma ini yang membuat pasien menutup diri dan tidak berobat,” kata Ade.
Stigma juga menyebabkan pasien enggan melapor ke puskesmas. Padahal, setiap kasus TBC memerlukan skrining pada seluruh anggota keluarga karena risiko penularan tinggi di rumah tangga.
“Kalau satu keluarga ada TBC, semua harus diperiksa. Tapi ada yang tidak mau karena malu. Akibatnya yang diobati hanya satu orang, sementara yang lain mungkin sudah tertular. Nanti terjadi penularan ulang,” jelasnya.
Faktor lain adalah rendahnya kepatuhan minum obat. Pengobatan TBC minimal enam bulan tanpa putus. Namun banyak pasien berhenti ketika gejala membaik atau karena efek samping obat seperti mual.
“Pasien merasa sudah sembuh, lalu berhenti obat. Padahal kumannya belum mati. Nanti aktif lagi, bahkan bisa jadi kebal obat. Itu yang membuat TBC makin sulit ditangani,” ujar Ade.
Sebelumnya, Data Dinas Kesehatan Kota Bandung mencatat 18.846 kasus TBC sepanjang 2025, menjadikannya tertinggi kedua di Jawa Barat. Angka ini menunjukkan beban penyakit masih besar meski program pengendalian terus berjalan.
“Jadi di Bandung, kita masih dikatakan banyak betul kasus TBC dan di Jawa Barat sendiri Bandung itu yang kedua terbanyak penderita TBC,” ujar Dadan, Minggu (22/2/2026).
Dadan mengatakan, sebaran kasus TBC di wilayah kota Bandung ini merata di hampir setiap kecamatan
“Penderitanya ada yang sudah bergejala batuk lama lebih dari 2 minggu tidak sembuh sembuh” Katanya
Ade menilai eliminasi TBC tidak bisa hanya mengandalkan layanan kesehatan, tetapi harus melibatkan perubahan pola pikir masyarakat dan penghapusan stigma.
“Pengendalian TBC itu holistik. Bukan hanya dokter dan pasien, tapi masyarakat, tempat kerja, sekolah, semua harus mendukung. TBC bukan penyakit memalukan, tapi penyakit yang harus dirangkul dan diobati sampai sembuh,” tegasnya.
Indonesia menargetkan eliminasi TBC pada 2030. Namun tanpa peningkatan kesadaran gejala, kepatuhan terapi, dan dukungan sosial, target tersebut dinilai masih menghadapi tantangan besar
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






