ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Fenomena pertemanan posesif di kalangan remaja dinilai sebagai bentuk relasi tidak sehat yang berpotensi berkembang menjadi konflik hingga kekerasan. Psikolog menegaskan, sikap posesif dalam hubungan pertemanan, baik sesama jenis maupun lawan jenis, tetap termasuk kategori negatif.
“Dalam usia remaja, memperkuat pertemanan itu wajar. Remaja yang memiliki banyak teman dan kelompok sebaya justru menunjukkan perkembangan sosial yang sehat,” ujar Dosen Fakultas Psikologi Universitas Islam Bandung, Stephani Raihana Hamdan, S.Psi., M.Psi., saat dihubungi, Kamis (19/2/2026).
Namun, ia menekankan istilah posesif sendiri sudah menunjukkan adanya masalah dalam relasi.
ADVERTISEMENT
Langgar Perda Tiga Tempat Hiburan Malam di Bandung Kepergok Beroperasi
“Kata posesif saja sudah tidak positif. Pertemanan yang sehat itu saling membantu, saling mendukung kegiatan positif, dan mendorong peningkatan diri. Jika sudah ada rasa memiliki berlebihan dan kontrol di luar kewajaran, itu bukan hubungan yang sehat,” katanya.
Menurutnya, pertemanan seharusnya menjadi ruang tumbuh bersama, misalnya dalam hobi, kegiatan, maupun pengembangan keterampilan.
“Jika teman memiliki minat yang sama, mereka saling mendukung agar kemampuan meningkat. Itu sehat. Tetapi jika hubungan berubah menjadi mengatur dan membatasi, itu mengarah pada relasi toksik,” jelasnya.
Ia menegaskan, sikap posesif tidak dapat dibenarkan dalam bentuk relasi apa pun.
“Baik sesama jenis maupun lawan jenis, posesif tetap tidak sehat. Itu biasanya muncul dari hubungan yang tidak sehat atau toksik,” tegasnya.
Berakar dari Rasa Tidak Aman
Stephani menjelaskan, perilaku posesif umumnya berakar dari rasa tidak aman (insecure) dalam relasi sosial.
“Posesif biasanya muncul dari individu yang tidak memiliki rasa aman dalam hubungan. Jika seseorang merasa aman, dia mampu percaya. Namun jika insecure, dia cenderung curiga dan ingin mengontrol,” ujarnya.
Ia menambahkan, pola insecure sering terbentuk sejak masa awal kehidupan, terutama dalam hubungan dengan pengasuh.
“Jika sejak kecil merasa aman dan dilindungi, anak belajar bahwa orang lain dapat dipercaya. Namun jika pengalaman awalnya traumatis atau tidak aman, individu bisa tumbuh dengan rasa tidak percaya,” katanya.
Ketika individu dengan rasa tidak aman menjalin pertemanan, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi kecemburuan dan kontrol berlebihan.
“Karena tidak percaya, dia menjadi posesif. Kecemburuannya berlebihan, kontrolnya kuat, bahkan bisa berkembang menjadi agresivitas dan kekerasan,” jelasnya.
Pertemanan posesif, lanjutnya, berdampak langsung pada kesejahteraan mental remaja.
“Hubungan toksik jelas menurunkan kualitas hidup. Remaja tidak merasa nyaman dan tidak bahagia. Hidup dalam relasi yang tidak sehat memicu stres dan mengganggu kesehatan mental,” ujarnya.
Karena itu, ia menekankan pentingnya membangun relasi pertemanan yang sehat sejak remaja.
“Pertemanan seharusnya membuat individu berkembang menjadi lebih baik, bukan menurunkan kesejahteraan. Kuncinya saling percaya, saling mendukung, dan mendorong perkembangan positif,” katanya.
Ia pun berpesan kepada remaja agar membangun hubungan yang aman dan nyaman.
“Bangun hubungan yang aman, nyaman, dan saling percaya. Hindari relasi yang mengontrol dan tidak sehat,” pungkasnya.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






