ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Kelenteng identik dengan ornamen khas Tionghoa dan praktik ibadah umat Kong Hu Chu, terutama saat perayaan Imlek. Namun di kawasan Astanaanyar, Kota Bandung, berdiri sebuah kelenteng dengan konsep berbeda. Kelenteng Giri Toba menghadirkan simbol dan altar dari berbagai agama dalam satu ruang ibadah.
Secara fisik, bangunannya tampak seperti kelenteng pada umumnya, dengan dominasi warna merah serta altar Tri Dharma (Kong Hu Chu, Buddha, dan Tao).
Akan tetapi, di bagian dalamnya terdapat sejumlah altar yang mewakili keyakinan berbeda, termasuk Islam dan Kejawen. Salah satu yang paling mencolok adalah altar yang menampilkan patung Eyang Semar, foto Walisongo, serta daftar nama nabi dan imam dalam tradisi Islam.
ADVERTISEMENT
Dion Markx Mulai Jatuh Cinta pada Bandung: Dari Adaptasi Sulit hingga Temukan Spot Ngopi Favorit
Ketua Kelenteng Giri Toba, Sanjaya Wangsawiharja, menjelaskan bahwa konsep lintas agama tersebut telah menjadi bagian dari identitas kelenteng sejak awal berdiri pada 1961. Menurutnya, pendiri kelenteng, Suhu Cang Siu Tze, dikenal mempelajari berbagai ajaran agama dan meyakini bahwa seluruh agama pada hakikatnya menuju Tuhan yang sama.
“Sejak awal memang dirancang sebagai tempat ibadah yang terbuka. Selain altar Tri Dharma, tersedia juga altar untuk Islam dan Kejawen. Umat dari latar belakang apa pun dipersilakan beribadah sesuai keyakinannya masing-masing dalam suasana saling menghormati,” ujar Sanjaya.
Ia menegaskan, keberadaan altar Islam dan Kejawen bukan tambahan baru, melainkan sudah ada sejak kelenteng didirikan. Konsep tersebut, kata dia, bertujuan melayani kebutuhan spiritual umat secara universal, baik melalui kebatinan, pengobatan, maupun peribadatan sesuai agama masing-masing.
Pada altar Islam dan Kejawen, selain patung Semar sebagai figur spiritual dalam tradisi Jawa, terpampang pula foto Walisongo serta nama para nabi, rasul, dan imam dalam Islam.

Kehadiran simbol-simbol tersebut disebut sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi Islam sekaligus jembatan kultural antara komunitas Tionghoa dan masyarakat lokal.
Konsep toleransi di kelenteng ini tidak hanya bersifat simbolik. Pihak kelenteng secara rutin menggelar kegiatan lintas iman, termasuk mengundang ustaz dan kiai untuk memberikan ceramah pada peringatan Maulid Nabi. Kegiatan tersebut dihadiri umat Muslim dan Kong Hu Chu secara bersamaan.
“Setiap Maulid kami mengadakan peringatan dan mengundang para ustaz serta kiai. Umat Kong Hu Chu dan Muslim duduk bersama mendengarkan ceramah. Ini bagian dari upaya menjaga kebersamaan,” kata Sanjaya.
Selain kegiatan keagamaan, kelenteng juga aktif dalam aksi sosial. Menjelang Cap Go Meh, pengurus membagikan beras kepada warga sekitar. Saat Ramadan, kelenteng menyediakan takjil untuk masyarakat yang berpuasa. Pada Idulfitri, warga sekitar turut menerima kue lebaran dari pihak kelenteng.
“Kami berusaha hadir untuk masyarakat tanpa memandang ras maupun agama. Tidak ada keberatan dari warga karena kami menjalin hubungan baik dan saling menghormati,” ujarnya.
Sanjaya menambahkan, nilai yang dipegang pengurus kelenteng sejalan dengan prinsip Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, yakni menjaga keharmonisan antarumat beragama di lingkungan sekitar maupun masyarakat luas.
Tempat ibadah tersebut, kata dia, terbuka bagi siapa pun yang datang sesuai kepentingan ibadahnya masing-masing dengan tetap menjunjung toleransi.
Nama “Giri Toba” sendiri mengandung filosofi spiritual bernuansa Sunda tentang ketuhanan dan ketundukan manusia kepada Tuhan.
Filosofi itu tercermin dalam doa berbahasa Sunda yang menekankan kesucian Tuhan, kewajiban menjalankan rukun iman, serta kepasrahan manusia terhadap kehendak Ilahi.
Makna tersebut memperlihatkan perpaduan nilai Tionghoa dan kearifan lokal Sunda yang menjadi ciri khas kelenteng ini. Meski tidak berada di kawasan Pecinan, Kelenteng Giri Toba tetap berdiri di tengah permukiman warga Muslim Astanaanyar dan menjadi simbol hidupnya toleransi lintas iman di Kota Bandung.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






