ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM –Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, masyarakat Sunda di berbagai daerah di Jawa Barat mulai menjalankan beragam tradisi turun-temurun sebagai bentuk persiapan lahir dan batin.
Tradisi tersebut rutin dilakukan satu hingga beberapa hari sebelum memasuki bulan puasa dan hingga kini masih lestari di tengah perkembangan zaman.
Bagi masyarakat Sunda, suasana Ramadan sejatinya telah terasa bahkan sebelum hari pertama puasa tiba. Salah satu tradisi yang paling dikenal adalah munggahan, yakni kegiatan berkumpul bersama keluarga atau tetangga menjelang Ramadan.
ADVERTISEMENT
Tak Hanya Urus Listrik, PLN Bandung Turun Berbagi untuk Yatim dan Dhuafa
Kegiatan ini umumnya diisi dengan doa bersama serta makan bersama atau botram, sebagai simbol rasa syukur dan kebersamaan.
Selain munggahan, masyarakat Sunda juga mengenal tradisi ziarah kubur atau nyekar. Tradisi ini dilakukan dengan membersihkan makam keluarga serta memanjatkan doa bagi para leluhur. Nyekar mencerminkan kuatnya ikatan spiritual antara generasi yang masih hidup dengan mereka yang telah berpulang.
Sehari sebelum memasuki bulan puasa, masyarakat Sunda kerap menjalankan tradisi kuramasan atau mandi keramas. Ritual sederhana ini dimaknai sebagai bentuk penyucian diri, baik secara lahir maupun batin, sebelum menjalani rangkaian ibadah Ramadan.
Saat bulan Ramadan berlangsung, suasana kampung-kampung di Jawa Barat kian semarak dengan tradisi ngadulag dan lodong. Para pemuda berkeliling kampung menabuh bedug atau membunyikan meriam bambu sebagai penanda waktu sahur. Kegiatan ini tidak hanya berfungsi sebagai pengingat, tetapi juga menjadi ajang kebersamaan yang kerap dilombakan antarwilayah.
Menjelang waktu berbuka puasa, masyarakat Sunda memiliki kebiasaan populer yang dikenal dengan istilah ngabuburit. Warga biasanya menghabiskan waktu sore dengan berjalan-jalan atau berkumpul di ruang publik, seperti alun-alun dan pusat keramaian. Di Kota Bandung, kawasan Alun-Alun Bandung menjadi salah satu lokasi favorit. Aktivitas ngabuburit umumnya ditutup dengan botram atau buka puasa bersama.
Selain itu, terdapat pula tradisi papajar, yang memiliki makna serupa dengan munggahan sebagai ungkapan kegembiraan menyambut bulan suci. Sementara tradisi nganteuran juga masih kerap dilakukan, yakni mengantarkan makanan kepada tetangga atau kerabat sebagai wujud berbagi rezeki dan mempererat silaturahmi menjelang Ramadan.
Beragam kebiasaan tersebut menunjukkan bahwa tradisi Ramadan masyarakat Sunda di Jawa Barat bukan sekadar ritual tahunan, melainkan juga sarana memperkuat hubungan sosial, budaya, dan spiritual di tengah masyarakat.
Hingga kini, tradisi menyambut Ramadan tersebut masih terus dijaga dan dilaksanakan oleh masyarakat Sunda di berbagai wilayah, termasuk Kota Bandung dan sekitarnya, sebagai bagian dari identitas budaya sekaligus perekat kebersamaan selama bulan suci. (Muhammad Farhan Rizqi/MG)
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






