ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Jalan Trunojoyo, Kota Bandung, bukan sekadar ruas jalan pendek di jantung kota. Kawasan ini menyimpan jejak penting lahirnya industri kreatif independen yang tumbuh dari semangat perlawanan terhadap arus utama industri mode pada pertengahan 1990-an.
Keberadaan berbagai merek lokal di Trunojoyo berawal dari pergerakan komunitas musik independen, skateboard, hingga desain grafis yang kala itu mendambakan ruang ekspresi yang bebas dan mandiri.
Kawasan yang sebelumnya dikenal sebagai deretan rumah tua yang tenang perlahan berubah menjadi pusat ekonomi kreatif, ketika para pelaku muda industri busana membutuhkan ruang nyata untuk memasarkan karya mereka tanpa harus bergantung pada pusat perbelanjaan modern.
ADVERTISEMENT
Dukung BRT, AA Abdul Rozak Ingatkan Pemkot Bandung: Jangan Jadikan Proyek PSN Bebani Warga
Pilihan menjadikan Trunojoyo sebagai basis usaha bukan tanpa pertimbangan. Selain letaknya yang strategis di pusat kota dan berdekatan dengan sekolah serta kampus, biaya sewa rumah tinggal pada masa itu relatif terjangkau.
Kondisi tersebut memungkinkan para pengusaha muda yang membangun modal dari nol untuk bertahan sekaligus bereksperimen dengan identitas merek mereka.
Kedekatan antartoko juga menciptakan ekosistem yang unik. Para pemilik usaha tidak hanya berjualan, tetapi saling bertukar ide, berbagi jejaring produksi, hingga membangun solidaritas komunitas kreatif yang menjadi fondasi kuat perkembangan kawasan ini.
Rumah Tua yang Menjadi Saksi Lahirnya Merek Legendaris
Sejarah mencatat, kemunculan distro di sepanjang Jalan Trunojoyo dipicu oleh semangat kolektif para pendiri merek legendaris seperti 347 Boardrider.co—yang kemudian dikenal sebagai UNKL347. Dari rumah-rumah tua inilah lahir produk-produk yang merepresentasikan gaya hidup urban anak muda Bandung.
Tak hanya itu, Trunojoyo juga menjadi ruang tumbuh bagi merek khusus perempuan seperti Flashy, yang menghadirkan standar baru dalam industri tas lokal melalui desain sederhana namun tetap fungsional dan berkarakter.
Keunikan Trunojoyo terletak pada ekosistem produksinya yang organik. Seorang desainer bisa langsung berdiskusi dengan penjahit atau penyedia jasa sablon manual di gang-gang sekitar. Proses produksi yang dekat dan personal ini membuat karya yang dihasilkan tidak bersifat massal, sekaligus membangun hubungan emosional antara pemilik merek dan para pengrajin.
Keahlian pengrajin lokal dalam mengolah material berkualitas serta ketelitian dalam teknik jahitan menjadi nilai tambah yang memperkuat kepercayaan konsumen. Tak sedikit pelanggan yang rela membayar lebih mahal demi produk dengan kualitas yang konsisten dan terbukti bertahan puluhan tahun.
Magnet Belanja dan Tradisi “Perang Diskon” Jelang Lebaran
Hingga kini, Trunojoyo tetap menjadi magnet belanja, terutama menjelang Hari Raya Idulfitri. Salah satu daya tarik utamanya adalah tradisi diskon besar-besaran yang digelar hampir seluruh toko. Promo cuci gudang dengan potongan harga signifikan—bahkan mencapai lebih dari 50 persen—menjadi momen yang selalu ditunggu pembeli.
Namun, daya tarik Trunojoyo tak semata soal harga. Banyak koleksi yang dirilis dalam jumlah terbatas dan hanya tersedia di toko fisik, menjadikan kawasan ini sebagai “markas asli” merek-merek independen Bandung. Fenomena ini kerap memicu antrean panjang hingga memenuhi badan jalan, ketika anak muda dari berbagai daerah berburu koleksi terbaru dengan harga terjangkau.
Pengalaman berdesakan, memilih langsung pakaian, dan merasakan tekstur kain menghadirkan sensasi yang tak tergantikan oleh belanja daring. Di tengah perubahan tren dan digitalisasi, konsistensi para pelaku usaha menjaga karakter merek membuat Jalan Trunojoyo tetap berdiri kokoh sebagai simbol kemandirian, kreativitas, dan sejarah industri mode independen Bandung. (Muhamad Yura Adani Putra/MG)
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






