ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Di sebuah sudut kawasan Pasteur, Kota Bandung, sebuah percakapan tentang pendidikan akan dibuka pada 14 Februari 2026. Bukan seminar besar dengan panggung megah, melainkan perjumpaan yang sengaja dirancang hangat dan berskala terbatas. Komunitas Jagad Alit menyebutnya Temu Sapa—sebuah open house yang mengajak orang tua dan masyarakat untuk berhenti sejenak, lalu bertanya ulang: apa sebenarnya yang dibutuhkan anak saat memasuki usia sekolah dasar?
Temu Sapa ini menjadi penanda penting, karena tahun 2026 merupakan tahun pertama SD Jagad Alit akan menerima murid baru. Alih-alih langsung berbicara soal pendaftaran, kuota, atau capaian, sekolah justru memilih membuka ruang dialog lebih dulu. Pendekatan ini, bagi sebagian orang tua, mungkin terasa tidak lazim di tengah iklim pendidikan yang semakin kompetitif dan serba cepat.
Di sinilah Temu Sapa mengambil posisi: bukan sebagai ajang promosi, melainkan sebagai ruang perkenalan nilai dan cara pandang pendidikan Waldorf, yang sejak awal menempatkan anak sebagai manusia yang sedang bertumbuh—bukan proyek prestasi.
ADVERTISEMENT
Ruang Percakapan dan Pendidikan Waldorf
Salah seorang koordinator kegiatan, Listia Rahmandaru, atau yang akrab disapa Listi, menjelaskan bahwa Temu Sapa memang dirancang sebagai ruang percakapan, bukan acara seremonial.
“Banyak orang tua datang ke sekolah dengan membawa kecemasan,” ujar Listi saat ditemui menjelang kegiatan. “Cemas anaknya tertinggal, cemas salah memilih sekolah. Temu Sapa ini kami rancang sebagai ruang aman untuk bertanya dan berdiskusi, tanpa tekanan.”
Sebagai aktivis pendidikan yang lama berkecimpung di isu pendidikan di Kota Bandung, Listi melihat kecenderungan pendidikan dasar yang semakin mempercepat anak. Ia menyebut, tidak sedikit orang tua yang sebenarnya ingin memahami proses belajar anak, tetapi terjebak pada tuntutan sistem dan ekspektasi sosial.
“Padahal, usia sekolah dasar itu masa transisi besar. Anak sedang belajar mengenali dunia, dirinya sendiri, dan relasi dengan orang lain. Kalau kita hanya fokus pada hasil akademik, sering kali kita lupa melihat proses tumbuhnya,” kata dia.
Dalam pendekatan pendidikan Waldorf, proses belajar dipahami sebagai perjalanan manusia yang utuh, bukan sekadar pencapaian akademik. Melalui pendidikan Waldorf, seluruh potensi dalam diri manusia dihidupkan dan dikembangkan: akal dan intelektualitas, imajinasi dan kreativitas, sosial emosi, moral, karakter, hingga aspek spiritualitas.
Kerangka inilah yang menjadi dasar pendekatan pembelajaran di SD Jagad Alit. Orang tua diajak melihat bahwa belajar dapat hadir melalui seni, gerak, cerita, ritme harian, dan relasi yang konsisten antara guru dan anak. Anak belajar dengan seluruh keberadaannya—tanpa harus diperkenalkan pada tekanan akademik yang terlalu dini.
Menurut Listi, pendekatan semacam ini penting diperkenalkan sejak awal, terutama bagi orang tua yang anaknya akan segera memasuki SD pada 2026. “Kami ingin orang tua punya cukup waktu untuk memahami, merenungkan, lalu memutuskan. Bukan karena ikut tren, tapi karena merasa cocok dengan kebutuhan anaknya.”
Pendidikan Waldorf: Sebuah Pendekatan yang Patut Dipertimbangkan
Keterbukaan Informasi dan Perjumpaan Komunitas
Dari sisi publikasi, Kharisma Alin, atau Alin, menuturkan bahwa tantangan terbesar justru terletak pada cara menyampaikan informasi pendidikan secara jujur dan berimbang. Alin telah bergabung bersama komunitas Jagad Alit Waldorf selama lebih dari empat tahun, dan cukup akrab dengan dinamika orang tua yang baru berkenalan dengan pendidikan Waldorf.
“Kami sadar, istilah open house sering diasosiasikan dengan promosi,” ujar Alin. “Padahal Temu Sapa ini berbeda. Karena itu, sejak awal kami menjaga bahasa publikasi agar tetap informatif, tidak menjanjikan hal-hal berlebihan, dan tidak menutup ruang pertanyaan.”
Menurut Alin, banyak orang tua sebenarnya haus informasi, tetapi kesulitan menemukan penjelasan yang utuh tentang sebuah pendekatan pendidikan. Di media sosial, pendidikan kerap dipotong menjadi slogan atau klaim singkat.
“Temu Sapa justru ingin mengajak orang tua mendengar langsung, melihat langsung, dan merasakan suasananya. Pendidikan Waldorf tidak bisa dijelaskan hanya lewat poster atau caption,” katanya.
Keterbukaan ini menjadi semakin penting karena SD Jagad Alit baru akan memulai penerimaan murid. “Kami tidak ingin orang tua datang dengan ekspektasi yang keliru. Lebih baik sejak awal jelas: ini pendekatan kami, ini nilai yang kami pegang, dan ini cara kami mendampingi anak,” lanjut Alin.

Salah satu agenda utama Temu Sapa adalah public talk bersama Kenny Dewi, Founder TK Jagad Alit Waldorf sekaligus Ketua Asosiasi Waldorf Steiner Indonesia. Sesi ini dirancang sebagai pengantar pendidikan Waldorf di jenjang sekolah dasar, disampaikan dengan bahasa yang membumi dan tanpa jargon teknis yang rumit.
Selain itu, kehadiran mini bazaar dimaksudkan untuk menciptakan suasana perjumpaan komunitas. Orang tua tidak datang sebagai calon pelanggan, melainkan sebagai bagian dari percakapan bersama tentang pendidikan dan masa depan anak.
Menyiapkan Orang Tua, Memilih Pendidikan secara Sadar
Dalam banyak diskusi pendidikan, perhatian sering tertuju pada kesiapan anak. Temu Sapa SD Jagad Alit justru menyoroti sisi lain: kesiapan orang tua. Memilih sekolah dasar dipahami bukan sebagai keputusan teknis, melainkan keputusan nilai.
“Anak akan tumbuh selama enam tahun di SD. Orang tua perlu merasa selaras dengan nilai yang dijalankan sekolah,” ujar Listi. Ia menilai, ruang-ruang dialog semacam Temu Sapa masih relatif jarang, padahal sangat dibutuhkan di tengah kompleksitas pilihan pendidikan saat ini.
Di kota yang bergerak cepat seperti Bandung, Temu Sapa menjadi ruang untuk melambat sejenak—mendengar, berdialog, dan mempertimbangkan pilihan dengan lebih jernih. Bagi SD Jagad Alit, langkah menerima murid baru pada 2026 diawali dengan satu hal mendasar: membangun pemahaman bersama.
Sebab, pendidikan yang bermakna lahir dari pilihan yang disadari, bukan keputusan yang tergesa. (FMA)
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






