ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Pendidikan tinggi di Indonesia kerap dinilai dari seberapa baik ia mencetak lulusan. Namun bagi Prof. Suyanto, persoalannya tidak sesederhana itu. Universitas, menurutnya, bisa menyiapkan manusia dan pengetahuan—tetapi tidak sendirian menciptakan ruang kerja dan ekosistem yang memungkinkan pengetahuan itu benar-benar hidup.
Pandangan tersebut mengemuka di tengah pergeseran arah kebijakan pendidikan nasional. Pada seleksi Beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) 2026, pemerintah menegaskan bahwa beasiswa tidak lagi diposisikan semata sebagai pembiayaan studi, melainkan sebagai instrumen untuk menghasilkan dampak. Bahasa kebijakan berubah: dari akses pendidikan menuju kontribusi setelah pendidikan selesai.
Perubahan bahasa itu sekaligus memunculkan pertanyaan lanjutan. Ketika pendidikan diarahkan pada dampak, sejauh mana ekosistem di luar kampus—dunia kerja, industri, dan kebijakan—siap menyerap dan menghidupkan pengetahuan yang dihasilkan?
ADVERTISEMENT
Pertanyaan-pertanyaan tersebut mengemuka dalam perbincangan Koran Mandala dengan Prof. Suyanto di ruang kerjanya di Telkom University, Bandung, Senin (26/1/2026). Percakapan berlangsung tanpa naskah, bergerak dari soal pendidikan hingga batas peran universitas ketika berhadapan dengan realitas lapangan kerja dan ekosistem ekonomi.
Sebagai pimpinan perguruan tinggi teknologi, Prof. Suyanto tidak berbicara sebagai juru tafsir kebijakan. Ia berbicara sebagai saksi lapangan—tentang apa yang bisa, dan tidak bisa, dilakukan universitas ketika pendidikan diminta menghasilkan dampak.
Ketika Pendidikan Berhenti di Gerbang Kampus
Bagi Prof. Suyanto, perdebatan tentang kualitas pendidikan sering berhenti terlalu cepat. Banyak diskusi publik terfokus pada kurikulum dan metode pengajaran, sementara persoalan yang lebih menentukan justru muncul setelah mahasiswa meninggalkan kampus.
Dalam pengalamannya di Telkom University, Prof. Suyanto menjelaskan bahwa universitas berupaya menyiapkan kapasitas manusia dan pengetahuan melalui pendidikan, riset, serta kolaborasi. Namun begitu lulusan keluar dari kampus, kendali institusi pendidikan menjadi terbatas. Pengetahuan yang dibawa lulusan akan berhadapan langsung dengan struktur di luar universitas—lapangan kerja, arah industri, serta kebijakan yang tidak selalu bergerak seiring dengan dunia akademik.
LPDP 2026 Resmi Dibuka: Ketika Beasiswa Negara Bergeser dari Pendidikan ke Dampak
Ia menegaskan bahwa tidak terserapnya lulusan tidak otomatis mencerminkan kegagalan pendidikan. Persoalan tersebut, menurutnya, lebih sering berkaitan dengan kesiapan ekosistem. Universitas adalah bagian dari sistem yang lebih luas, bukan satu-satunya penentu hasil.
Ekosistem sebagai Batas Nyata
Dalam perbincangan itu, Prof. Suyanto juga menyinggung pandangan yang belakangan muncul di ruang publik bahwa persoalan pendidikan tidak berhenti pada pencetakan lulusan. Dalam pengalamannya sebagai pimpinan perguruan tinggi, hal tersebut bukan wacana abstrak.
Universitas dapat menyiapkan kapasitas manusia dan pengetahuan, tetapi penyerapan serta pemanfaatannya sangat ditentukan oleh struktur di luar kampus—mulai dari ketersediaan lapangan kerja, arah industri, hingga regulasi yang berlaku. Menurut Prof. Suyanto, tanpa keterhubungan yang kuat antarelemen tersebut, pengetahuan berisiko berhenti sebagai potensi, bukan kontribusi nyata.
Dalam konteks inilah tuntutan “dampak” menjadi kompleks. Dampak tidak bisa dilekatkan hanya pada individu penerima beasiswa atau institusi pendidikan. Ia bergantung pada bagaimana seluruh ekosistem bergerak dan membuka ruang bagi ilmu untuk bekerja.
Di Ambang Sistem yang Belum Siap
Kegelisahan tentang ekosistem kerja tidak hanya muncul dari ruang pimpinan universitas. Ia juga dirasakan oleh mereka yang berada di ambang sistem—belum sepenuhnya masuk, tetapi sudah cukup dekat untuk melihat batas-batasnya. Remus berada pada posisi itu. Saat ini, ia tengah mempersiapkan diri mengikuti seleksi LPDP 2026.
Bagi Remus persoalan pendidikan tinggi bukan soal kurangnya kecerdasan atau kompetensi individu. Ia tidak mempersoalkan pentingnya bidang strategis seperti STEM, juga tidak mempertanyakan ketatnya seleksi beasiswa. Yang membuatnya berhenti dan berpikir justru pertanyaan tentang apa yang menunggu setelah pendidikan selesai.
LPDP 2026 Resmi Dibuka: Ketika Beasiswa Negara Bergeser dari Pendidikan ke Dampak
Dalam pengamatannya, Indonesia tidak kekurangan lulusan pintar, termasuk dari bidang sains dan teknologi. Namun banyak dari mereka akhirnya bekerja di sektor yang tidak sepenuhnya sejalan dengan latar pendidikannya. Bukan karena tidak mampu, melainkan karena pilihan yang tersedia terbatas.
Menurut Remus, persoalan utama terletak pada sisi permintaan. Riset dan pengembangan masih sangat bergantung pada pembiayaan publik, sementara industri belum memiliki insentif yang cukup kuat untuk berinvestasi pada inovasi. Di sisi lain, akses terhadap modal dan ruang kerja bagi inisiatif baru juga tidak mudah, terutama dalam kondisi ekonomi global yang tidak menentu.
Kegelisahan itu membuatnya memandang beasiswa bukan sebagai tujuan akhir. Pendidikan, baginya, adalah tahap awal dari perjalanan yang jauh lebih panjang. Tantangan yang sesungguhnya justru hadir setelah gelar diraih—ketika ilmu dan keterampilan harus menemukan ruang untuk bekerja, berkontribusi, dan memberi makna di luar kampus.
Di Mana Ilmu Menemukan Ruang
Di akhir perbincangan, Prof. Suyanto juga diminta menyampaikan pandangannya kepada mereka yang tengah bersiap mengikuti seleksi LPDP. Ia tidak berbicara tentang strategi lolos seleksi atau keunggulan personal. Beasiswa, menurutnya, adalah awal dari proses yang lebih panjang, bukan tujuan akhir.
Dalam pandangan tersebut, pendidikan menyiapkan kapasitas, tetapi kehidupan profesional menuntut lebih dari sekadar kompetensi akademik. Ilmu baru akan berarti ketika ia menemukan ruang untuk bekerja—di industri, kebijakan, dan masyarakat.
Dengan LPDP 2026 yang menegaskan orientasi dampak, pertanyaan itu menjadi semakin relevan. Negara telah memilih untuk berinvestasi pada manusia. Tantangan berikutnya—yang tidak selalu terlihat—adalah memastikan bahwa ketika manusia itu kembali, ada ruang yang cukup bagi ilmu untuk berkontribusi, bukan sekadar bertahan. (IWK)
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






