KORANMANDALA.COM – Upaya pelestarian sejarah Bandung terus diperkuat di tengah pesatnya modernisasi kota. Sejumlah situs bersejarah kembali mendapat perhatian serius sebagai bagian dari strategi menjaga identitas, nilai budaya, dan jejak sejarah Kota Bandung, mulai dari bangunan pendidikan, kawasan heritage, hingga museum.
Langkah ini dinilai penting untuk memastikan pembangunan kota tetap selaras dengan akar sejarah dan kebudayaan yang membentuk Bandung sejak era kolonial hingga masa kini.
Aula Barat dan Aula Timur ITB Diusulkan Jadi Cagar Budaya Nasional
Dua bangunan ikonik di Institut Teknologi Bandung (ITB), yakni Aula Barat dan Aula Timur, tengah diusulkan sebagai Cagar Budaya Peringkat Nasional. Sebelumnya, kedua gedung tersebut telah ditetapkan sebagai cagar budaya tingkat Kota Bandung dan Provinsi Jawa Barat.
Aula Barat dan Aula Timur merupakan karya arsitek ternama Henry Maclaine Pont, yang memadukan gaya arsitektur Eropa modern dengan unsur tradisional Nusantara. Bangunan ini menjadi saksi sejarah awal pendidikan teknik di Hindia Belanda, yang kemudian berkembang menjadi salah satu pusat pendidikan teknik terkemuka di Indonesia.
Keberadaan dua aula bersejarah tersebut tidak hanya bernilai arsitektural, tetapi juga merekam perjalanan intelektual dan perkembangan pendidikan tinggi di Bandung.
Laswi Heritage, Revitalisasi Jejak Perkeretaapian Kota Bandung
Upaya pelestarian sejarah Bandung juga tampak pada revitalisasi kawasan Laswi Heritage di Jalan Laswi, Kota Bandung. Kawasan yang sebelumnya merupakan gudang persediaan perkeretaapian pada masa kolonial ini kini disulap menjadi ruang publik oleh PT Wijaya Karya (Persero) Tbk bersama PT Wijaya Karya Realty.
Laswi Heritage dahulu berperan penting dalam sistem logistik dan pergudangan kereta api. Melalui revitalisasi, kawasan ini dihidupkan kembali tanpa menghilangkan karakter historisnya.
Pada 2025, Laswi Heritage dipercaya menjadi lokasi Bandung Design Biennale 2025, sebuah forum desain internasional yang memperkuat fungsi ruang kota sebagai pusat kreativitas, sekaligus contoh harmonisasi antara pelestarian bangunan bersejarah dan kebutuhan kota modern.
Museum Sri Baduga, Pusat Pelestarian Sejarah dan Budaya Sunda
Pelestarian sejarah Bandung juga diwujudkan melalui Pameran Nasional Pusaka Nusantara 2025 yang digelar di Museum Sri Baduga, Bandung. Pameran ini berlangsung pada 29 Juli hingga 31 Oktober 2025, menampilkan lebih dari 238 artefak pusaka dari berbagai museum di Indonesia, termasuk kujang, keris, dan benda bersejarah lainnya.
Museum Sri Baduga menjadi salah satu pusat utama pelestarian sejarah Bandung dan budaya Sunda di Jawa Barat. Museum ini resmi dibuka pada 5 Juni 1980 dan diberi nama Sri Baduga sebagai rujukan pada Prabu Siliwangi, tokoh penting dalam sejarah Sunda.
Keberadaan museum ini tidak hanya berfungsi sebagai ruang pamer, tetapi juga sebagai sarana edukasi publik dalam memahami warisan budaya Nusantara.
Menjaga Identitas Kota di Tengah Modernisasi
Penguatan pelestarian situs bersejarah di Bandung menunjukkan komitmen berbagai pihak dalam menjaga identitas kota. Dari kampus ITB, kawasan heritage Laswi, hingga Museum Sri Baduga, sejarah tidak sekadar disimpan, tetapi dihidupkan kembali agar relevan dengan generasi masa kini dan mendatang. (Rifki Rafsanjani/MG)
