Kamis, 26 Februari 2026 19:35

KORANMANDALA.COM –Bagi Nia Rostika (49), membesarkan anak berkebutuhan khusus bukanlah perjalanan yang singkat atau mudah.

Ada hari-hari yang dipenuhi kelelahan dan kekhawatiran, namun di balik itu tersimpan kebahagiaan yang tak tergantikan.

Setiap langkah yang dijalani bersama sang anak menjadi pelajaran tentang ketabahan, cinta tanpa syarat, dan keberanian untuk terus melangkah.

Perempuan Ojol Bernama Kartini: Menyalakan Harapan dari Atas Motor

Ica, putrinya yang kini berusia 8 tahun, menunjukkan perkembangan yang mungkin tidak instan, tetapi nyata dan membahagiakan. Proses belajar yang dijalani disesuaikan dengan kemampuan Ica, tanpa tekanan dan tanpa paksaan.

“Karena pendidikannya disesuaikan dengan kemampuan Ica, alhamdulillah sekarang sudah banyak sekali perubahan,” tutur Nia.

Perubahan paling terasa terlihat dari kemampuan sosial Ica. Ia kini lebih mudah bergaul, tata kramanya semakin terbentuk, dan keberaniannya untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitar terus tumbuh. Hal-hal sederhana yang bagi sebagian orang mungkin terlihat kecil, justru menjadi pencapaian besar yang patut dirayakan.

Arah perkembangan Ica semakin jelas ketika ia bersentuhan dengan dunia seni dan budaya Sunda. Melalui seni, Ica menemukan ruang aman untuk mengekspresikan dirinya. Seni menjadi bahasa yang membantunya memahami lingkungan, membangun kepercayaan diri, sekaligus melatih kemandirian.

“Di bidang seni Sunda, dia bisa menyesuaikan diri. Misalnya saat berada di Museum Dewi Sartika, bahkan ia ikut memandu dan membantu mengarahkan para tamu. Dari situ terlihat sekali kemandiriannya mulai tumbuh,” kata Nia dengan nada bangga.

Perjalanan ini tentu bukan tanpa tantangan. Orang tua anak disabilitas dihadapkan pada berbagai persoalan, mulai dari memahami kebutuhan anak, mengelola emosi diri sendiri, hingga memperjuangkan ruang agar anak dapat berkembang sesuai potensinya.

Namun bagi Nia, cinta selalu menjadi kekuatan utama. Setiap kemajuan kecil yang ditunjukkan Ica adalah sumber harapan dan kebahagiaan yang terus dirayakan.

“Pembelajarannya tidak dibeda-bedakan, hanya peningkatannya disesuaikan dengan kemampuan Ica. Jadi arahnya jelas, potensinya difokuskan pada hal-hal yang bisa berkembang maksimal, terutama di seni dan sosial,” ujarnya.

Ke depan, Nia berharap Ica tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, percaya diri, dan mampu mengekspresikan dirinya dengan caranya sendiri. Bagi Nia, perjalanan bersama Ica bukan tentang mengejar kesempurnaan, melainkan tentang menerima, mendampingi, dan menghargai setiap langkah kecil yang penuh makna.

Exit mobile version